Pengangguran 1 Juta Sarjana Menganggur Mei 2026

Sakernas Mei 2026 catat sekitar 1, 1,03 juta lulusan perguruan tinggi menganggur. TPT sarjana 6,09 persen, upah rata-rata Rp4,99 juta, dan mismatch industri.

Author Image

Adel

1 Juta Sarjana Menganggur Mei 2026, Upah Tinggi Tak Terserap

– Data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Mei 2026 menempatkan sekitar satu juta lulusan diploma IV, sarjana terapan, S-1, S-2, dan S-3 dalam kategori pengangguran. Angka yang lebih rinci menyebut pengangguran berlatar sarjana mencapai 1,03 juta orang, sementara tingkat pengangguran terbuka (TPT) lulusan sarjana di level 6,09 persen.

Inti artikel

  • Bila kapasitas itu idle, daya topang konsumsi rumah tangga melemah dan pertumbuhan inklusif jadi lebih lambat
  • Optimaise News merangkum data BPS, potret daerah, serta temuan LPEM FEB UI tentang underemployment
  • Dari total sekitar 7,22 juta penganggur, porsi lulusan SD ke bawah saja 17,18 persen atau 1,24 juta orang

Kontradiksinya tajam: buruh berpendidikan sarjana memegang upah rata-rata tertinggi Rp 4,99 juta per bulan, jauh di atas lulusan SD ke bawah Rp 2,12 juta. Bila kapasitas itu idle, daya topang konsumsi rumah tangga melemah dan pertumbuhan inklusif jadi lebih lambat. Optimaise News merangkum data BPS, potret daerah, serta temuan LPEM FEB UI tentang underemployment.

Angka Sakernas Mei 2026: 1 Juta Lebih Lulusan Perguruan Tinggi Tanpa Kerja

BPS mendefinisikan penganggur sebagai penduduk usia 15 tahun ke atas yang tidak bekerja, tetapi sedang mencari pekerjaan, mempersiapkan usaha baru, merasa putus asa, atau sudah diterima bekerja namun belum mulai. Dalam rilis TPT berdasarkan pendidikan tertinggi yang ditamatkan, lulusan perguruan tinggi masuk potret itu dengan volume jumlah yang besar meski persentasenya di bawah SMK.

Dari total sekitar 7,22 juta penganggur, porsi lulusan SD ke bawah saja 17,18 persen atau 1,24 juta orang. Di sisi lain, rilis seputar sarjana menempatkan lebih dari sejuta orang bergelar tanpa pekerjaan. Definisi operasional satu jam kerja seminggu terakhir tetap berlaku sebagai ambang “bekerja”, asal kegiatan bertujuan memperoleh atau membantu memperoleh penghasilan.

Kondisi ini berpapasan dengan narasi pertumbuhan yang ditopang konsumsi rumah tangga, investasi, stimulus fiskal, dan transfer ke daerah. Gelar tinggi yang idle berarti upah potensial terbesar tidak mengalir ke belanja, tabungan, atau investasi rumah tangga.

Perbandingan TPT dan Upah Rata-rata Antarjenjang Pendidikan

Perbandingan TPT dan Upah Rata-rata Antarjenjang Pendidikan
Ilustrasi Perbandingan TPT dan Upah Rata-rata Antarjenjang Pendidikan.

Secara persentase, TPT lulusan sarjana 6,09 persen masih lebih rendah dari SMK 7,68 persen dan SMA 6,17 persen. Lulusan SD ke bawah hanya 2,31 persen. Namun skala absolut sarjana menganggur memberi “pukulan ganda”: status gelar plus volume satu juta-an orang.

Upah rata-rata memperjelas taruhan ekonomi. Buruh sarjana di Rp 4,99 juta per bulan adalah yang tertinggi antarjenjang; lulusan SD ke bawah di Rp 2,12 juta yang terendah. Setelah dikurangi simpanan dan investasi, sisa upah masuk konsumsi. Semakin tinggi upah yang terserap, semakin kuat topangan belanja rumah tangga dibanding upah kecil di segmen padat karya.

Laporan LPEM FEB UI, merujuk Sakernas Agustus 2025, menambah lapisan lain: sekitar 8 juta lulusan S1 bekerja di bawah tingkat pendidikannya, dan lebih dari 4 juta lulusan S1 berupah di bawah UMK. Lima bidang studi paling banyak muncul di kalangan pengangguran S1 mencakup manajemen sekitar 10,3 persen, hukum 9,0 persen, ekonomi 8,7 persen, pendidikan 7,1 persen, dan akuntansi 5,1 persen; informatika juga tercatat 4,6 persen meski sering dianggap prospektif.

Kenapa Industri Padat Karya Serap Lebih Banyak Lulusan SD

Tingginya penyerapan lulusan SD ke bawah menandakan pasar masih butuh tenaga untuk pekerjaan sederhana berupah lebih rendah. Struktur itu khas industri padat karya. Sebaliknya, industri padat modal dan yang mengadopsi teknologi belum cukup luas untuk menampung kapasitas sarjana.

Akibatnya, sebagian sarjana yang sudah bekerja bisa terjebak di posisi di bawah kompetensi. Pola itu sejalan dengan temuan LPEM bahwa pertumbuhan tenaga kerja terdidik lebih cepat dari terciptanya pekerjaan profesional berketerampilan tinggi, serta hubungan program studi, kompetensi, kebutuhan pemberi kerja masih longgar.

Perluasan kampus baru tanpa peta kebutuhan wilayah dan sektor berisiko menambah pasokan lulusan tanpa memperbesar peluang kerja sesuai spek. Penguatan mutu kampus existing, tautan dunia kerja, dan penciptaan lowongan high-skill dinilai sama pentingnya dengan menambah kursi kuliah.

Risiko Underemployment dan Cita-cita Ekonomi Inklusif

Underemployment skill meredam potensi upah tinggi. Bila sejuta lebih sarjana menganggur atau delapan juta S1 bekerja di bawah spek, circulasi konsumsi dari kelompok berupah tertinggi ikut terhambat. Target perekonomian tinggi sekaligus inklusif jadi lebih sulit dikejar dalam tempo yang diharapkan.

Dalam kerangka yang dirangkum Optimaise News dari multi-sumber, gap upah Rp 4,99 juta versus Rp 2,12 juta bukan hanya soal keadilan individual. Ia menyangkut seberapa cepat belanja rumah tangga menopang pertumbuhan ketika gelar tinggi tidak masuk jalur produktif. Bahkan pola belanja non-pokok, dari kebutuhan harian hingga komoditas seperti anggur merah, anggur hijau, atau varian impor, ikut bergantung pada stabilitas pendapatan kelompok berpendidikan tinggi.

Diagnosa strukturalnya sederhana: pasar masih “lapar” tenaga sederhana, sementara saluran padat modal/teknologi belum siap menampung overflow sarjana. Selama mismatch itu bertahan, gelar jadi asuransi yang mahal tanpa payung lowongan setara.

Pelajaran dari Data Daerah vs Tren Nasional

Di Papua Tengah, TPT Mei 2026 turun tipis menjadi 3,81 persen dari 3,83 persen pada Februari. Angkatan kerja 931,89 ribu orang; 896,42 ribu bekerja dan 35,47 ribu menganggur. Penduduk usia kerja sekitar 1,12 juta, dengan TPAK laki-laki 89,96 persen dan perempuan 75,17 persen. Penyerap utama: pertanian, perdagangan, pemerintahan, transportasi, dan konstruksi.

Sebaliknya Lampung mencatat TPT naik 0,02 poin menjadi 3,97 persen; penganggur bertambah 2.130 orang. Angkatan kerja 5.153,54 ribu, bekerja 4.949,08 ribu, penganggur 204,45 ribu. TPT lulusan diploma dan universitas di Lampung 7,92 persen, tertinggi antarjenjang, sementara SD ke bawah hanya 1,47 persen. Pola nasional “gelar tinggi lebih rentan absolut” berulang di tingkat provinsi.

Potret lain, Kota Subulussalam mencatat 45.665 penduduk bekerja dengan angka pengangguran 4,87 persen. Variasi daerah menegaskan satu hal: penurunan TPT di satu wilayah tidak meniadakan konsentrasi risiko di lulusan diploma dan universitas di wilayah lain.

FAQ
Berapa jumlah pengangguran berlatar sarjana pada Mei 2026?
BPS menempatkan angka sekitar 1 juta lulusan perguruan tinggi menganggur, dengan catatan pengangguran berlatar sarjana mencapai 1,03 juta orang pada periode Sakernas Mei 2026.
Berapa TPT lulusan sarjana dibanding SMK dan SD?
TPT sarjana 6,09 persen; SMK 7,68 persen; SMA 6,17 persen; SD ke bawah 2,31 persen. Jumlah penganggur lulusan SD ke bawah 1,24 juta dari total 7,22 juta penganggur.
Apa temuan utama LPEM FEB UI terkait S1?
Sekitar 8 juta lulusan S1 bekerja di bawah tingkat pendidikan, lebih dari 4 juta berupah di bawah UMK, dan lima bidang studi mendominasi porsi pengangguran S1, termasuk manajemen serta informatika 4,6 persen.
Bagaimana perbandingan Papua Tengah dan Lampung?
Papua Tengah turun ke TPT 3,81 persen; Lampung naik ke 3,97 persen dengan TPT diploma/universitas 7,92 persen sebagai yang tertinggi di provinsi itu.
Adel
Redaktur Tren

Adel adalah redaktur tren Optimaise News. Meliput Google Trends, topik viral, dan isu hangat harian di Indonesia. Menyusun artikel tren agar pembaca paham kenapa topik naik dan apa konteksnya, bukan hanya meniru judul yang sedang ramai.