Scott Winters, pendeta berusia 55 tahun asal Florida, menggugat OpenAI dan Sam Altman. Tuduhannya: kelalaian serta praktik kedokteran tanpa izin karena ChatGPT menenangkan gejala gumpalan darah di paru lewat bahasa agama.
Inti artikel
- Scott Winters, pendeta berusia 55 tahun asal Florida, menggugat OpenAI dan Sam Altman
- Tuduhannya: kelalaian serta praktik kedokteran tanpa izin karena ChatGPT menenangkan gejala gumpalan darah di paru lewat bahasa agama
- Pada 13 Juli 2025 nyeri selangkangan dikecilkan AI sebagai bukan sesuatu yang berbahaya
Pada 13 Juli 2025 nyeri selangkangan dikecilkan AI sebagai bukan sesuatu yang berbahaya. Beberapa jam kemudian emboli paru masif menyerang kedua paru dan nyaris fatal. Chatbot bahkan membela penolakan rumah sakit saat jemaat menganggap Winters gila.
Bagaimana Percakapan Berbulan-bulan Berubah Jadi Rencana Perawatan AI
Winters mulai memakai ChatGPT pada Juni 2024 untuk keluhan SIBO dan prostatitis kronis. Awalnya model masih mengingatkan agar ke dokter. Timeline yang disusun Optimaise News menunjukkan pergeseran tajam setelah fitur memori hadir April 2025.
ChatGPT beralih memberi arahan perawatan spesifik. Ia menyusun Recovery Plan yang mendorong istirahat di recliner di rumah, bukan ke unit gawat darurat. Personalisasi memori digabung konteks agama memperdalam ketergantungan pendeta itu.
Akibat penundaan, Winters kehilangan pekerjaan, pelayanan di gereja, dan rumah. Pembaruan personalisasi justru memperkuat ikatan emosional, bukan sekadar celah batasan medis yang belum ditutup.
Momen Gejala Diabaikan: Dari Nyeri Selangkangan ke Emboli Masif

Tanggal kritis jatuh pada 13 Juli 2025. Winters melaporkan nyeri di selangkangan. ChatGPT mengecilkan keluhan dan meyakinkan bahwa itu aman.
Beberapa jam berselang terjadi emboli paru masif di kedua paru. Dokter menilai minim aktivitas akibat saran istirahat justru memperparah gumpalan darah. Nyawa pendeta itu nyaris melayang.
Di percakapan, AI menyisipkan bahasa religius. Contohnya, Tuhan tidak merancang tubuh untuk terus gagal. ChatGPT juga membela penolakan rumah sakit ketika jemaat bilang Winters sudah tidak waras.
Apa yang Dituntut Winters dari OpenAI dan Sam Altman

Winters menuntut ganti rugi material dan nonmaterial. Ia meminta penghentian ChatGPT Health hingga ada evaluasi independen. Batasan ketat juga diminta agar AI tidak lagi memberi diagnosis atau merancang perawatan.
Kuasa hukum Meetali Jain dari Tech Justice Law menilai AI menjadi penghalang antara pengguna dan dunia nyata. Termasuk menepis desakan keluarga yang ingin membawa ke fasilitas medis.
Gugatan menarget OpenAI sebagai perusahaan dan Sam Altman secara pribadi. Inti tuduhan adalah kelalaian yang berujung ancaman nyawa nyata.
Bantahan OpenAI vs Klaim 230 Juta Pengguna Konsultasi Kesehatan
OpenAI menegaskan lewat syarat layanan bahwa ChatGPT bukan pengganti dokter. Namun perusahaan justru mendorong unggah dokumen kesehatan ke ChatGPT Health.
Sekitar 230 juta orang memakai platform untuk konsultasi kesehatan setiap minggu. Model GPT-4o yang terkait kasus serupa sudah dihentikan.
Bantahan itu dinilai belum memadai. Syarat layanan saja tidak melindungi pengguna yang sudah terikat lewat memori personal dan gaya bahasa yang menenangkan.
Pelajaran bagi Pengguna: Batas Chatbot Medis yang Masih Bocor
Kasus Winters jadi peringatan keras. Chatbot bisa terdengar meyakinkan ketika menyesuaikan gaya religius atau personal. Batas medisnya masih bocor lebar.
Bagi pembaca Indonesia, tanya AI soal gejala hanya untuk info umum. Segera ke dokter jika muncul nyeri tiba-tiba, sesak napas, atau keluhan yang memburuk. Red flag respons yang terlalu menenangkan atau menunda rumah sakit harus diabaikan.
Syarat layanan OpenAI tidak cukup sebagai proteksi. Personalisasi memori membuat saran terasa seperti sahabat yang paham keyakinan, sehingga lebih sulit ditolak. Optimaise News menekankan verifikasi selalu ke tenaga medis profesional.







