Jakarta, Optimaise News – Promosi minuman beralkohol merek Newport di sela festival musik The Sounds Project, Jakarta Utara, memicu polemik besar setelah muncul tantangan menghafal Surah Ad-Dhuha dengan imbalan sebotol miras. Video aksi itu menyebar luas Senin 10 Agustus 2026, memicu kecaman pejabat, tokoh agama, dan warganet yang menilai Al-Qur’an dijadikan gimmick pemasaran.
Inti artikel
- Insiden disebut berlangsung spontan di jeda pertunjukan, bukan bagian konsep resmi acara
- Potongan video yang beredar menampilkan stan minuman newport di area festival
- Imbalan yang ditawarkan adalah botol miras gratis
Insiden disebut berlangsung spontan di jeda pertunjukan, bukan bagian konsep resmi acara. Berdasarkan sumber yang dihimpun Optimaise News, MC booth menyampaikan permohonan maaf, sementara akun resmi brand sempat menghilang setelah kritik membanjir.
Kronologi lengkap challenge hafal Ad-Dhuha di booth miras
Potongan video yang beredar menampilkan stan minuman newport di area festival. Seorang pengunjung perempuan melafalkan Surah Ad-Dhuha di depan booth, disambut tawa dan sorakan staf serta pembawa acara usai bacaan selesai. Imbalan yang ditawarkan adalah botol miras gratis.
Tayangan pertama muncul dari akun media sosial @newport.tanpabatas sekitar pukul 22.00 WIB pada Senin 10 Agustus 2026. Keesokan harinya, gelombang kecaman merembet ke ruang publik dan pejabat, menjadikannya topik yang naik cepat di percakapan digital.
Lokasi digambarkan di Jakarta Utara saat The Sounds Project digelar. Pihak festival kemudian menegaskan aksi tersebut merusak citra acara dan tidak mewakili standarisasi sponsor yang mereka jaga.
MC booth konfirmasi kejadian yang tak terduga
MC di booth Newport, Ega, mengakui ada audiens yang mengambil alih mikrofon usai segmen musik. Tantangan hafalan lantas digulirkan di situ, bukan dari naskah resmi promotor festival.
Ega mengaku lalai karena tidak segera meraih kembali mic setelah tantangan berjalan. Ia menyampaikan permohonan maaf atas kelalaian tersebut. Penyelenggara The Sounds Project mengecam keras aksi spontan itu dan menegur pihak sponsor terkait.
Klarifikasi booth menekankan jalinan kejadian di jeda show, sehingga tidak dilabeli sebagai “konsep resmi” festival. Walau begitu, publik menilai dampak moral tetap serius karena video sudah viral dan brand turut terlihat.
Masyarakat hujat dan boikot produk Orang Tua
Kolom komentar penuh amarah. Warganet menuntut boikot seluruh produk Orang Tua (OT) Grup, yang disebut terkait rantai distribusi merek miras itu. Ada pula yang menyebar alamat kantor di Cengkareng, pinggir tol dekat Apartemen Puri Orchard, disertai ajakan “silaturahmi” ironis.
Ustadz Hilmi Firdausi mengunggah ulang video dan mendesak klarifikasi serta maaf dalam batas waktu 24 jam. Ia menilai aksi sudah memasuki ranah penistaan agama. Akun @newport.tanpabatas kemudian tidak lagi bisa diakses setelah badai kritik.
Di ranah pencarian publik, frasa minuman newport dan newport blue sempat tumpang tindih dengan produk spirit beraroma di etalase daring, sehingga penasaran pasar berpindah cepat ke kontroversi etika. Varian pencarian lain seperti newport county atau “salford city vs newport” tetap tidak relevan dengan kasus Jakut ini, tetapi menandai keragaman intent di tren kata kunci.
Tokoh agama desak investigasi pidana penistaan agama
Ketua Umum Yayasan Konsumen Muslim Indonesia (YKMI) Ferry Irawan menolak alasan “gimmick”. Ia menyebut tantangan menukar hafalan Ad-Dhuha dengan miras telah melewati batas pelecehan agama, melanggar moral, etika, dan hukum.
Ferry mendesak Kementerian Perdagangan mencabut izin edar merek Newport dan mengajak ormas serta individu melapor ke polisi. Menurutnya, permintaan maaf tidak menghapus unsur pidana; pelaku festival, penanggung jawab stan, dan pihak terkait tetap layak diproses.
Anggota Komisi VIII DPR RI Iqbal Romzi juga mengecam keras. “Saya mengecam keras promosi semacam ini. Ayat Al-Qur’an adalah bagian dari ajaran dan keyakinan umat Islam, bukan alat untuk menarik konsumen dalam promosi minuman keras,” ujar Iqbal. Ia minta Newport memberi klarifikasi dan minta maaf kepada masyarakat, khususnya umat Islam, bila materi itu memang dari mereka.
Anggota DPR lainnya, Maman Imanul Haq, menilai menjadikan hafalan Ad-Dhuha sebagai syarat hadiah miras sebagai perbuatan tercela. Ia menuntut evaluasi total penyelenggara dan promotor agar serupa tak berulang.
Dunia usaha wajib belajar dari pelajaran kasus Holywings
Iqbal mengingatkan polemik Holywings 2022, saat promosi miras memakai nama “Muhammad” dan “Maria” memicu kemarahan luas. Enam karyawan kala itu ditetapkan tersangka. “Kita tentu tidak ingin kasus Holywings terulang kembali,” katanya. Ia menekankan batas sensitivitas agama harus dihormati dalam komunikasi pemasaran.
Dalam rangkuman Optimaise News, pesan itu sejalan dengan tekanan YKMI agar korporasi tidak menunggu polemik membesar. Kebebasan kreatif digambarkan tetap sah selama tidak mengeksploitasi simbol suci demi viralitas. “Jangan bermain api di musim kemarau. Kalau terjadi kebakaran meluas, sangat sulit untuk dipadamkan,” tegas Iqbal.
Bagi pelaku usaha, pelajaran praktis yang muncul dari rangkaian 9, 11 Agustus 2026 sederhana: skrip sponsor harus disaring sebelum event, staf booth dilatih menghentikan improvisasi sensitif, dan konten digital dicek ulang agar tidak menabrak norma agama. Kegagalan satu jeda show bisa mengunci reputasi brand, izin edar, hingga ancaman pidana.







