Baru 46 persen anak Indonesia menonton tayangan sesuai klasifikasi usia. Angka riset LSF 2023 itu menjadi alarm keras: sensor mandiri harus pindah dari layar bioskop ke ruang privat digital di rumah dan kampus.
Inti artikel
- Baru 46 persen anak Indonesia menonton tayangan sesuai klasifikasi usia
- Angka riset LSF 2023 itu menjadi alarm keras: sensor mandiri harus pindah dari layar bioskop ke ruang privat digital di rumah dan kampus
- Lembaga Sensor Film merespons dengan menggelar sosialisasi Gerakan Nasional Budaya Sensor Mandiri di CGV Depok Mall pada 21 Juli 2026
Lembaga Sensor Film merespons dengan menggelar sosialisasi Gerakan Nasional Budaya Sensor Mandiri di CGV Depok Mall pada 21 Juli 2026. Mereka secara khusus merangkul ibu rumah tangga dan akademisi sebagai agen filter harian yang paling dekat dengan anak.
Riset 2023: Mayoritas Anak Masih di Luar Klasifikasi Usia
Data LSF 2023 membeberkan kenyataan pahit. Hanya 46 persen anak yang menonton sesuai batasan usia resmi. Sisanya masih bebas mengakses konten yang semestinya dilarang untuk kelompok umur mereka.
Ketua LSF Naswardi menegaskan kelompok ibu dan akademisi harus jadi penggerak literasi tontonan. Ia menargetkan mereka mampu menumbuhkan kebiasaan memilah film dan serial sejak dini, bukan menunggu aparat sensor datang.
Peserta kegiatan hari itu mencakup pelajar, mahasiswa, komunitas film, serta kalangan ibu. Mereka diajak memahami klasifikasi usia bukan sekadar label, melainkan perlindungan nyata bagi tumbuh kembang anak.
Ponsel di Kamar Tertutup, OTT dan Medsos Tanpa Filter

Ancaman terbesar kini bukan lagi tiket bioskop. Ponsel yang dibawa masuk kamar tertutup membuka akses bebas ke platform OTT dan media sosial tanpa filter usia yang memadai.
Gustav Aulia dari Subkomisi Apresiasi dan Promosi LSF mengingatkan pantauan harus menjangkau OTT, medsos, dan ruang privat. Konten dewasa bisa masuk lewat rekomendasi algoritma yang tak peduli umur penonton.
Anak sering menonton sendirian tanpa pengawasan. Situasi ini membuat sensor formal di bioskop kehilangan daya jangkau. Literasi di tangan orang terdekat menjadi benteng terakhir.
Ibu di Rumah, Akademisi di Kampus: Dua Ujung Tombak Literasi

Model simultan yang ditawarkan LSF menempatkan ibu sebagai filter rumah tangga dan akademisi sebagai filter kampus dalam satu forum. Keduanya hadir bersama di Depok agar pesan literasi mengalir lurus dari dapur ke ruang kuliah.
Bagi ibu, langkah harian sederhana bisa dimulai dengan memeriksa riwayat tontonan anak setiap malam. Aktifkan mode anak di aplikasi streaming, diskusikan singkat isi film yang baru ditonton, dan tetapkan jam bebas gawai.
Akademisi diminta menyelipkan materi literasi media di kelas atau diskusi kampus. Mereka bisa mengajak mahasiswa menganalisis klasifikasi usia sebuah film sebelum menonton bareng. Sinergi dua ujung ini diharapkan menciptakan rantai pengawasan yang tak putus.
Nobar Film Keluarga Jadi Laboratorium Sensor Mandiri
Sosialisasi tidak berhenti di ceramah. Kegiatan dibarengi nonton bareng dua film bertema keluarga: Jangan Buang Ibu dan Takkan Kubiarkan Kau Menangis. Kedua judul dipilih sebagai alat edukasi langsung di lokasi, bukan hiburan sampingan.
Nobar berfungsi sebagai laboratorium sensor mandiri. Penonton diajak mempraktikkan cara memilah adegan, menilai kesesuaian usia, dan mendiskusikan nilai keluarga yang muncul di layar. Pengalaman bersama ini membuat pesan literasi lebih menempel ketimbang sekadar slide presentasi.
Dengan menonton film yang relevan, peserta merasakan sendiri mengapa klasifikasi usia penting. Mereka pulang membawa contoh konkret yang bisa ditiru di rumah atau kampus keesokan harinya.
Risiko Ganda: Konten Ilegal, Iklan Judi Online, hingga Virus
Fauzan Zidni, Ketua Umum BPI, memperingatkan akses ponsel tanpa pengawasan membawa risiko berlapis. Selain konten ilegal, anak bisa terpapar iklan judi online dan virus perangkat yang merusak data pribadi.
Sinergi LSF dan BPI memetakan ancaman teknis malware berdampingan dengan ancaman isi tayangan. Keduanya sama-sama berbahaya dan sering datang bersamaan lewat tautan yang tampak tak berbahaya.
Orang tua bisa menjadikan tiga poin ini sebagai checklist praktis: periksa apakah aplikasi streaming anak terkunci mode usia, waspadai iklan yang muncul tiba-tiba di sela video, dan pastikan perangkat terpasang proteksi dasar sebelum dipakai. Langkah sederhana itu memutus rantai risiko ganda sebelum terlambat.
Tujuan inti seluruh rangkaian di Depok tetap sama: menumbuhkan kebiasaan memilah tontonan sesuai kelompok usia. Sensor mandiri yang hidup di tangan ibu dan akademisi diharapkan lebih tangguh daripada aturan formal semata, terutama di era OTT yang tak mengenal batas waktu dan ruang.







