Louis van Gaal meninggalkan peran penasihat Dewan Komisaris Ajax Amsterdam pada Juli 2026 setelah menilai proses keputusan teknis klub terlalu lamban. Ia menunjuk sejumlah 16 orang yang harus meninjau hampir setiap kebijakan, jauh dari model jalur singkat era 1995, dan meramalkan klub yang finis kelima Eredivisie musim lalu sulit bangkit cepat.
Inti artikel
- Nama van Gaal ramai dibahas, namun ia menegaskan belum dihubungi KNVB
- Pada 2023, Michael van Praag yang saat itu memimpin Dewan Komisaris meminta teman lamanya, Louis van Gaal, masuk sebagai penasihat
- Van Gaal menerima tawaran itu dengan niat membantu klub yang sudah lama dekat dengannya
Dalam wawancara Voetbal International yang dirangkum Optimaise News, mantan pelatih Ajax, AZ, dan Bayern Munchen itu juga menyinggung posisi pelatih Timnas Belanda yang lowong usai Ronald Koeman mundur. Nama van Gaal ramai dibahas, namun ia menegaskan belum dihubungi KNVB.
Peran penasihat van Gaal usai Michael van Praag mundur
Pada 2023, Michael van Praag yang saat itu memimpin Dewan Komisaris meminta teman lamanya, Louis van Gaal, masuk sebagai penasihat. Van Gaal menerima tawaran itu dengan niat membantu klub yang sudah lama dekat dengannya.
Setelah sekitar tiga tahun, ia meletakkan tugas di Juli. Menurutnya, setelah Van Praag keluar dari Dewan Komisaris, masukan-masukannya praktis tidak lagi dipakai. Ia merasa berada di luar lingkaran formal, tanpa tanggung jawab langsung, tapi diminta tetap ikut berpikir.
Van Gaal menyatakan: “Saya tidak dihargai sebagaimana mestinya oleh Ajax.” Posisinya, lanjutnya, berisiko dijadikan perisai publik ketika hasil di lapangan buruk, sementara ia tak punya wewenang memperbaiki birokrasi. Situasi serupa digambarkan pada pengunduran diri Danny Blind dari jajaran komisaris di awal tahun.
Birokrasi 16 orang Ajax lawan jalur singkat PSV

Inti keluhan van Gaal ada di tata kelola teknis. Ia menjelaskan setidaknya 16 orang dari direksi, dewan pengawas, dan dewan manajemen ikut meninjau keputusan penting. Hanya dua di antara mereka dinilai punya pengalaman sepak bola level atas.
“Ada enam belas orang yang harus ikut meninjau setiap keputusan dan saya bahkan berada di luar itu. Pada akhirnya saya berpikir: saya hanya satu dari sekian banyak orang,” ujarnya. Rekrutmen pelatih atau pemain menjadi lambat karena setiap organ harus diberi tahu dan ikut menyetujui.
Ia membandingkan dengan PSV Eindhoven. Di sana jalur komunikasi dinilai pendek, mirip Ajax 1995 ketika hanya lima atau enam orang mengambil keputusan. Van Gaal menyinggung manajemen PSV dengan Marcel Brands, Toon Gerbrands, Earnest Stewart, dan pelatih Peter Bosz yang memberi kejelasan arah permainan. Ia menilai pelatih mestinya orang terpenting dalam organisasi, tapi di Ajax pengaruh coach sering dipangkas oleh rapat berlapis.
Prediksi Ajax di Eredivisie: sulit bangkit cepat
Ajax finis kelima di Eredivisie VriendenLoterij musim lalu. Van Gaal tidak melihat pemulihan cepat selama banyak pihak memengaruhi kebijakan. Direksi yang seharusnya memutuskan justru dihambat kewajiban melapor ke setiap organ.
Ia menekankan sepak bola modern menuntut kecepatan. Proses yang memakan waktu berlebih, katanya, tidak cocok dengan ritme kompetisi. Kontras era 1995 dengan struktur kini menjadi benang merah: dulu lima-enam orang cukup, kini enam belas suara membuat setiap langkah teknis tertunda.
Bagi pembaca yang mengikuti van Gaal profil pelatih, kritik ini lebih dari sekadar kekesalan personal. Ia menyoroti model organisasi yang, menurut pandangannya, menjauhkan klub dari keunggulan kompetitif di dalam negeri maupun Eropa.
Sinyal ke KNVB dan opsi di luar negeri
Di sisi lain, kursi pelatih Timnas Belanda kosong setelah Koeman mundur pasca-tersingkir di Piala Dunia 2026. Laporan media menyebut Michael Reiziger sempat mendekati kesepakatan, lalu sepi kabar. Eks pelatih Timnas Belanda Louis van Gaal ramai disebut kandidat potensial.
Dalam rangkuman Optimaise News dari wawancara yang sama, van Gaal menegaskan belum ada kontak resmi dari KNVB. “Saya selalu ingin membantu KNVB, dan saya melihat ada kemungkinan,” katanya. Ia menambahkan: “Saya pikir Belanda dengan skuad ini bisa menjadi juara Eropa atau juara dunia.”
Namun ia juga blak-blakan: “Tapi belum ada kontak. Saya tidak tahu apa yang diinginkan KNVB.” Ia sudah tiga kali melatih Oranje (2000-2001, 2012-2014, 2021-2022). Jika mengambil pekerjaan baru, kemungkinan besar di luar negeri, meski “siapa tahu”. Ia merasa lebih bugar dibanding 2022.
Sintesis dua berita hari yang sama memperjelas timeline: resign dari Ajax karena struktur macet, lalu sinyal kebugaran dan keterbukaan ke federasi tanpa tawaran resmi. Belgia louis van dalam wacana kandidat masih spekulatif sampai KNVB bergerak.







