Louis van Gaal mengakhiri peran penasihat Dewan Komisaris Ajax Amsterdam pada Juli 2026 dengan rasa berat. Ia menilai rantai keputusan klub melibatkan terlalu banyak pihak dan masukan teknisnya tidak lagi dipakai setelah teman serta mitranya, Michael van Praag, meninggalkan pimpinan interim.
Inti artikel
- Louis van Gaal mengakhiri peran penasihat Dewan Komisaris Ajax Amsterdam pada Juli 2026 dengan rasa berat
- Pada 2023 Van Praag, yang kala itu memimpin Dewan Komisaris, meminta Louis van Gaal mengisi kursi penasihat
- Van Gaal setuju karena merasakan Ajax sebagai klubnya dan ingin membantu di masa sulit
Dalam wawancara Voetbal International yang ramai dibahas 11 Agustus 2026, eks pelatih Ajax, AZ, Bayern Munchen, dan tiga kali bondscoach Oranje itu membandingkan rute pendek PSV dengan era Ajax 1995. Di saat yang sama, namanya kembali masuk spekulasi pelatih timnas Belanda usai Ronald Koeman mundur, meski ia tegaskan belum ada kontak resmi KNVB.
Undangan Van Praag 2023 berakhir Juli: nasihat diabaikan
Pada 2023 Van Praag, yang kala itu memimpin Dewan Komisaris, meminta Louis van Gaal mengisi kursi penasihat. Van Gaal setuju karena merasakan Ajax sebagai klubnya dan ingin membantu di masa sulit. Setelah sekitar tiga tahun, ia meletakkan tugas itu di Juli.
Menurutnya, perubahan kepemimpinan mengubah posisi saran. Setelah Van Praag lepas jabatan interim, nasihat-nasihat teknisnya tidak lagi dipakai. “Setelah kepergian Van Praag dari Dewan Komisaris, nasihat-nasihat saya tidak pernah lagi dipakai. Saya tidak dihargai sebagaimana mestinya oleh Ajax,” ujar Van Gaal.
Ia menyebut posisi penasihat berada di luar lingkar formal. Ia diminta berpikir, tetapi tanpa tanggung jawab atau pengaruh nyata. Rasa frustrasi mirip dengan yang dialami Danny Blind saat mundur dari jajaran komisaris: kehadiran legenda dimanfaatkan sebagai tameng publik tanpa ruang mengubah kebijakan.
16 peninjau keputusan vs 5-6 orang era 1995

Inti kritik van gaal profil manajemen Ajax terletak pada jumlah pelaku. “Ada enam belas orang yang harus ikut meninjau setiap keputusan dan saya bahkan berada di luar itu. Pada akhirnya saya berpikir: saya hanya satu dari sekian banyak orang,” katanya.
Dalam versi rinci, keenam belas pihak itu mencakup direksi, dewan pengawas, dan dewan manajemen. Hanya dua orang dinilai punya pengalaman sepak bola papan atas. Akibatnya, penunjukan pelatih atau rekrutmen pemain memakan waktu karena “semua orang ikut berbicara” termasuk yang, menurutnya, kurang paham level atas.
Prinsip kerjanya tegas: “Saya adalah seseorang dengan visi yang jelas, selalu seperti itu. Sebagai pelatih, saya berpegang pada aturan, nilai, norma, dan hasil kerja. Jika Anda tidak memberikan hasil, maka Anda harus pergi.” Ia menginginkan standar yang sama di tingkat manajemen, bukan hanya di lapangan.
PSV diacu: Brands, Stewart, Bosz dan garis pendek
Van Gaal menunjuk PSV Eindhoven sebagai acuan. Jalur komunikasinya sangat singkat, “sama seperti yang kami miliki di Ajax pada 1995” ketika hanya lima atau enam orang mengambil keputusan. Ia menyebut Marcel Brands yang pernah bekerja bersamanya di AZ, pendahulu Toon Gerbrands, direktur teknik Earnest Stewart, dan pelatih Peter Bosz.
Di PSV, garis ke ruang ganti dan kebijakan teknis dinilai lebih lurus sehingga sepak bola tetap prioritas. Ia menilai pelatih harus menjadi orang terpenting dalam organisasi klub. Birokrasi panjang, katanya, tidak cocok dengan dunia sepak bola yang bergerak cepat.
Optimaise News merangkum dari rangkaian wawancara bahwa perbandingan Ajax-PSV ini yang membuat banyak pengamat mengaitkan keputusan hengkangnya dengan prediksi lambatnya pemulihan klub.
Ajax peringkat kelima: Van Gaal prediksi bangkit lambat
Ajax finis kelima di Eredivisie VriendenLoterij musim lalu. Van Gaal menilai klub tidak akan cepat bangkit selama banyak pihak mempengaruhi kebijakan. Direksi seharusnya memutuskan, tetapi terhambat karena tiap organ harus diinformasikan dan menyetujui.
Implikasi praktis bagi suporter jelas: delay rekrutmen dan penunjukan pelatih memperpanjang masa transisi. Struktur 16 pihak versus 5-6 orang di 1995 menjelaskan, menurut logikanya, mengapa keputusan teknis terasa lambat di kompetisi yang menuntut respons cepat.
Itulah bingkai yang membuat belanda louis van kembali tren di Indonesia: kritik tata kelola klub amatir-profesional berpadu dengan spekulasi bondscoach tanpa penunjukan resmi.
Sinyal ke KNVB: belum kontak, skuad bisa juara, lebih bugar
Eks pelatih Timnas Belanda Louis van Gaal ramai dibahas juga karena isu Oranje. KNVB mencari pengganti Ronald Koeman. De Telegraaf sempat memberitakan ketertarikannya pada periode keempat, sementara Michael Reiziger dikabarkan hampir sepakat lalu tak mendengar kabar lanjutan.
“Saya selalu ingin membantu KNVB, dan saya melihat ada kemungkinan,” kata Van Gaal. “Saya pikir Belanda dengan skuad ini bisa menjadi juara Eropa atau juara dunia.” Namun ia menegaskan: “Tapi belum ada kontak. Saya tidak tahu apa yang diinginkan KNVB. Tampaknya minat terhadap pekerjaan ini sangat kecil, dan kemudian nama saya kembali muncul.”
Ia sudah tiga kali melatih timnas Belanda. Jika mengambil pekerjaan baru, “kemungkinan besar itu di luar negeri. Meski Anda tidak pernah tahu.” Yang ia tekankan: “Saya merasa lebih bugar daripada pada 2022.” Berdasarkan sumber yang dihimpun Optimaise News, sikap terbuka itu belum sama dengan tawaran resmi.







