Jakarta, Optimaise News – Liverpool unggul 2-0 lewat Alexander Isak dan Florian Wirtz, namun AS Monaco membalikkan skor dan menang 2-3 di Anfield pada laga pramusim Minggu (9/8/2026) malam WIB. Pelatih Andoni Iraola mengakui timnya belum mampu menjaga level permainan hingga peluit panjang.
Inti artikel
- Pelatih Andoni Iraola mengakui timnya belum mampu menjaga level permainan hingga peluit panjang
- Liverpool vs Monaco menjadi sinyal peringatan menjelang kompetisi resmi
- Di 30 menit awal, Liverpool tampil meyakinkan
Menurut rangkuman Optimaise News dari sejumlah laporan, ini menjadi kekalahan kedua beruntun The Reds di uji coba setelah sempat unggul dua gol, menyusul hasil 2-4 kontra Leeds United. Liverpool vs Monaco menjadi sinyal peringatan menjelang kompetisi resmi.
Detail gol perdana Liverpool dan reaksi Iraola
Di 30 menit awal, Liverpool tampil meyakinkan. Isak dan Wirtz memastikan keunggulan 2-0. Monaco merespons lewat penalti Aleksandr Golovin di menit ke-44 yang memperkecil ketertinggalan.
Pada babak kedua, Iraola melakukan sejumlah pergantian. Tim tuan rumah kemudian kebobolan dua gol lagi. Paris Brunner menutup laga dengan sundulan jarak dekat di menit ke-88 usai umpan silang dari situasi sepak pojok.
Iraola berbicara kepada LFC TV. “Cukup mirip dengan pertandingan melawan Leeds,” ujarnya. “Kami main bagus di babak pertama, khususnya selama 30 menit. Saat ini kami mungkin tidak punya lebih lagi, dalam hal level yang dibutuhkan untuk main seperti ini. Mereka pantas membalikkan keadaan.”
Fenomena comeback Monaco di laga uji coba

Monaco sempat kesulitan di babak pertama, lalu mendominasi setelah istirahat lewat pressing tinggi dan serangan cepat. Golovin, Mika Biereth, dan Paris Brunner memastikan balikan skor 3-2.
Penguasaan bola relatif berimbang, namun tembakan tepat sasaran Monaco lebih banyak. Laga persahabatan itu memberi menit bermain berharga bagi skuad tamu menjelang musim baru.
Dalam rangkuman Optimaise News, comeback di kandang lawan menandai bahwa skema Iraola masih rawan jebol begitu intensitas turun.
Kesamaan kekalahan dengan Leeds United
Pola hampir identik: unggul dua gol, lalu collaps di babak kedua. Sebelum Monaco, Liverpool kalah 2-4 dari Leeds United dengan skenario serupa.
“Kami memang di dua pertandingan pertama pramusim, tapi dua pertandingan terakhir kami tidak bisa mempertahankan level yang kami inginkan. Begitu kami melakukan beberapa perubahan, pemain mulai lelah dan kami tidak bisa mempertahankan level itu. Jadi kami punya pekerjaan rumah,” kata Iraola.
Dia juga menyinggung fisik pemain yang belum 100 persen, termasuk Virgil van Dijk dan Cody Gakpo yang baru saja memperkuat Belanda di Piala Dunia 2026. Butuh waktu lebih agar energi 90 menit tersedia.
Ancaman performa pramusim Liverpool
Dua kekalahan beruntun di uji coba menempatkan irama pelatih baru di bawah sorotan. Fokus harus beralih ke lini belakang dan pengelolaan rotasi agar chemistry duo Isak-Wirtz tidak diganggu kelemahan di belakang.
Jika pola comeback berulang saat liga dimulai, poin mudah bisa hilang. Pekerjaan rumah Iraola mencakup latihan intensitas tinggi dan integrasi pemain yang baru kembali dari turnamen internasional.
Pendekatan pressing yang diinginkan pelatih justru mirip dengan yang dipakai Monaco untuk menghukum The Reds di Anfield.
Update tim, pemain, dan lini pertahanan
Line-up awal Liverpool memakai formasi 4-2-3-1 dengan Alisson di gawang, van Dijk di tengah belakang, serta Wirtz dan Isak di lini depan. Monaco turun dengan 4-4-2 yang menempatkan Lamine Camara di gelandang.
Beberapa pergantian di babak kedua justru mempercepat kelelahan. Lini belakang kesulitan menghadapi serangan balik dan bola-bola set piece hingga gol penentu Brunner.
Ke depan, stabilitas stamina dan konsentrasi 90 menit menjadi prioritas sebelum kompetisi resmi dibuka. Adaptasi cepat duo serang baru harus sejalan dengan perbaikan ketahanan bertahan.







