Sepuluh tahun setelah upaya kudeta di Turki gagal total pada 15 Juli 2016, Presiden Recep Tayyip Erdogan merombak struktur negara lewat pembersihan institusi berskala besar. Upaya kudeta adalah momen yang memicu penahanan sekitar 390.000 orang terkait gerakan Gulen dari 2016 hingga 2025.
Inti artikel
- Upaya kudeta adalah momen yang memicu penahanan sekitar 390.000 orang terkait gerakan Gulen dari 2016 hingga 2025
- Lebih dari 125.000 pegawai negeri dan anggota militer dipecat
- Sebanyak 2.761 institusi ditutup dan 32 dekret darurat memperluas otoritas presiden
Lebih dari 125.000 pegawai negeri dan anggota militer dipecat. Sebanyak 2.761 institusi ditutup dan 32 dekret darurat memperluas otoritas presiden. Dampak jangka panjang masih terasa di Turki, mengubah keseimbangan kekuasaan seperti dilaporkan Optimaise News.
Skala Pembersihan yang Mengubah Struktur Negara
Pembersihan massal pasca kegagalan kudeta mencakup pemecatan lebih dari 125.000 pejabat sipil dan militer. Angka itu digabung dengan penahanan 390.000 orang serta penutupan 2.761 sekolah, yayasan, asosiasi, dan media.
Sintesis data membentuk gambaran total perombakan terhadap demokrasi dan lembaga publik dalam satu dekade. Sebanyak 4.130 vonis dijatuhkan terkait kasus-kasus ini.
Korban jiwa mencapai 253 orang. Mayoritas adalah warga sipil yang turun ke jalan menentang tank dan jet tempur di malam serangan.
Skala pembersihan jarang terjadi di negara dengan sistem demokratis. Banyak institusi diganti dengan struktur yang lebih loyal pada kekuasaan eksekutif.
Dari Sekutu Dekat ke Organisasi Terlarang

Gerakan Fethullah Gulen sebelumnya menjadi sekutu dekat pemerintahan Erdogan selama bertahun-tahun. Setelah kudeta gagal, mereka ditetapkan sebagai organisasi terlarang dengan label FETO.
Pemerintah menuduh Gulen sebagai dalang utama di balik aksi militer. Bantahan dari pihak mereka tidak menghentikan penangkapan yang meluas ke berbagai sektor.
Gulen meninggal dunia pada 2024 di Amerika Serikat dalam usia 83 tahun. Kematiannya tidak menghentikan proses hukum terhadap para pengikut di dalam negeri.
Dua Tahun Dekret Darurat Memperluas Otoritas Presiden

Status darurat diperpanjang sebanyak tujuh kali setelah kudeta. Periode luar biasa itu berakhir resmi pada 19 Juli 2018.
Dalam rentang dua tahun tersebut, pemerintah mengeluarkan 32 dekret darurat. Aturan ini memungkinkan pemecatan cepat tanpa prosedur birokrasi normal.
Dekret juga memfasilitasi penutupan lembaga secara massal. Otoritas presiden meluas signifikan lewat mekanisme ini yang sebelumnya butuh persetujuan legislatif.
Hasilnya kekuasaan eksekutif jauh lebih kuat dibanding sebelum peristiwa 2016. Banyak keputusan strategis kini terpusat di tangan presiden.
Simbol 15 Juli: Libur Nasional dan Nama Publik Baru
Tanggal 15 Juli ditetapkan sebagai hari libur nasional di Turki. Narasi perlawanan rakyat terhadap kudeta ditanamkan lewat peringatan resmi tahunan.
Jembatan Bosphorus diganti namanya menjadi Jembatan Para Martir 15 Juli. Nama baru itu menghormati para korban sipil dan penolak aksi militer malam itu.
Simbol-simbol publik ini memperkuat legitimasi pemerintahan pasca peristiwa. Peringatan digelar di berbagai kedutaan Turki di luar negeri setiap tahunnya.
Angka Penahanan hingga 2025 yang Masih Berdampak
Data kumulatif hingga 2025 mencatat sekitar 390.000 orang ditahan atau ditangkap terkait kasus Gulen. Di antara mereka, 113.000 orang ditahan sebelum menjalani persidangan.
Angka penahanan pra-sidang yang tinggi meninggalkan dampak sosial berkepanjangan. Banyak keluarga kehilangan pencari nafkah dan status sosial berubah drastis.
Pembersihan ini masih membentuk lanskap politik Turki hingga hari ini. Kekuasaan terpusat lebih kuat dibanding kondisi sebelum 2016.
Sintesis seluruh angka penahanan, pemecatan, penutupan, dan dekret menunjukkan pergeseran struktural yang permanen. Demokrasi Turki berjalan dalam kerangka yang berbeda total.







