Koalisi masyarakat sipil mengajukan lima tuntutan tegas agar pemerintah membatalkan rencana pelibatan personel TNI dalam pengawasan kepatuhan wajib pajak. Mereka menilai langkah itu berisiko menakut-nakuti warga dan mencoreng netralitas TNI di tingkat desa.
Inti artikel
- Mereka menilai langkah itu berisiko menakut-nakuti warga dan mencoreng netralitas TNI di tingkat desa
- Rencana melibatkan babinsa atau bintara pembina desa memicu penolakan luas dari organisasi sipil
- Optimaise News mencatat, kepatuhan pajak dinilai harus tumbuh dari kepercayaan dan transparansi, bukan pendekatan yang terkesan memaksa
Rencana melibatkan babinsa atau bintara pembina desa memicu penolakan luas dari organisasi sipil. Optimaise News mencatat, kepatuhan pajak dinilai harus tumbuh dari kepercayaan dan transparansi, bukan pendekatan yang terkesan memaksa.
Lima Tuntutan Koalisi Sipil soal Rencana TNI Awasi Pajak
Tuntutan pertama meminta pemerintah segera mencabut seluruh rencana pelibatan TNI atau babinsa dalam urusan pajak. Kedua, pastikan TNI hanya menjalankan fungsi pertahanan dan keamanan sesuai undang-undang yang berlaku.
Ketiga, perkuat kapasitas Direktorat Jenderal Pajak dengan tenaga sipil dan sistem digital yang andal. Keempat, prioritaskan program edukasi serta insentif bagi wajib pajak yang taat.
Kelima, libatkan organisasi masyarakat sipil secara aktif dalam penyusunan kebijakan perpajakan. Kelima poin ini digarisbawahi sebagai batas tegas antara urusan sipil dan militer.
Anggota DPR Kritik Pelibatan Babinsa dalam Pengawasan Pajak

Sejumlah anggota DPR menyoroti rencana tersebut dengan nada waspada. Mereka mempertanyakan dasar hukum dan potensi penyalahgunaan wewenang jika babinsa diberi peran mengawasi pembayaran pajak warga.
Menurut para legislator, tugas babinsa selama ini terbatas pada pembinaan kewilayahan dan ketahanan desa. Memasukkan urusan pajak dinilai bisa memicu gesekan baru di tingkat akar rumput.
Beberapa fraksi meminta penjelasan rinci dari pemerintah sebelum wacana itu dilanjutkan. Transparansi proses perumusan kebijakan menjadi sorotan utama di parlemen.
Risiko Intimidasi dan Rusaknya Kepercayaan Publik

Koalisi sipil menegaskan, warga bisa merasa terancam jika personel berseragam dilibatkan dalam urusan pajak. Rasa takut justru menggerus kesadaran membayar pajak secara sukarela.
Pengalaman sejumlah negara menunjukkan pendekatan militer dalam perpajakan sering gagal dan merusak citra institusi. Di Indonesia, reformasi 1998 sudah memisahkan tegas peran sipil dan militer.
Kepercayaan publik terhadap negara menjadi modal utama kepatuhan pajak jangka panjang. Jika modal itu rusak, target penerimaan negara justru makin sulit dicapai.
Usulan Alternatif Koalisi: Perkuat DJP dan Edukasi
Alih-alih melibatkan TNI, koalisi mendorong modernisasi sistem perpajakan berbasis data digital. Integrasi data antarlembaga dinilai lebih efektif untuk menjaring wajib pajak yang belum patuh.
Kampanye edukasi massal tentang manfaat pajak juga perlu digencarkan. Insentif khusus bagi UMKM yang taat menjadi salah satu usulan konkret yang diangkat.
Transparansi penggunaan dana pajak harus diperkuat. Warga perlu melihat secara nyata bahwa uang pajak kembali dalam bentuk layanan publik yang baik.
Ancaman terhadap Netralitas TNI Pasca Reformasi
Pelibatan TNI dalam urusan pajak berisiko mengaburkan batas fungsi pertahanan dan urusan sipil. Citra netral TNI di mata rakyat bisa terkikis jika institusi itu terlihat sebagai alat penagih.
Pengamat menilai, langkah ini bertentangan dengan semangat reformasi TNI. Fokus utama TNI seharusnya tetap pada kedaulatan negara dan penanganan ancaman nyata.
Hubungan sipil-militer yang sudah relatif stabil pasca reformasi bisa terganggu. Optimaise News memantau bahwa isu ini menyentuh inti pemisahan kekuasaan yang diperjuangkan bertahun-tahun.
FAQ: Pertanyaan Umum seputar TNI dan Pengawasan Pajak
Apa yang dimaksud rencana pelibatan TNI awasi pajak?
Rencana itu melibatkan personel TNI, khususnya babinsa di desa, untuk membantu memantau kepatuhan warga membayar pajak. Detail teknis masih dibahas di level pemerintah pusat.
Mengapa koalisi sipil menolak keras rencana ini?
Mereka khawatir pendekatan militer menciptakan rasa takut dan merusak kepercayaan publik. Kepatuhan pajak dinilai lebih baik dibangun lewat edukasi dan transparansi.
Apa saja isi lima tuntutan yang diajukan?
Cabut rencana pelibatan, jaga fungsi TNI sesuai UU, perkuat DJP dengan tenaga sipil, prioritaskan edukasi dan insentif, serta libatkan masyarakat sipil dalam kebijakan.
Bagaimana sikap DPR terhadap isu ini?
Sejumlah anggota DPR menyoroti risiko penyalahgunaan wewenang dan meminta penjelasan detail. Mereka menekankan batasan tugas babinsa tidak boleh meluas ke urusan pajak.







