Banjarmasin, Optimaise News – Ledakan di AEON Mall Kumamoto, Jepang, menewaskan tiga karyawan toko sekitar pukul 17.50 waktu setempat pada 28 Juli 2026, sekitar 80 menit setelah gempa. Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang menyebut kemungkinan besar penyebabnya adalah kebocoran gas LPG atau elpiji yang tertinggal di jaringan pipa dan menumpuk di dalam gedung.
Optimaise News merangkum, gas di tangki hampir setingkat normal, sehingga fokus investigasi bergeser ke residu di pipa bawah tanah yang mengalir ke lantai dan dinding. Area tengah lantai dua sisi selatan mal hancur sebagian, sementara polisi dan pemadam Prefektur Kumamoto melaporkan bau gas di dalam bangunan.
Inti artikel
- Gempa mengguncang kawasan, lalu ledakan menyusul hampir satu jam 20 menit kemudian
- Tiga karyawan toko di dalam mal meninggal
- Kerusakan terpusat di tengah lantai dua sisi selatan
Kronologi 80 menit setelah gempa 28 Juli di lantai dua AEON Mall
Gempa mengguncang kawasan, lalu ledakan menyusul hampir satu jam 20 menit kemudian. Tiga karyawan toko di dalam mal meninggal. Kerusakan terpusat di tengah lantai dua sisi selatan.
Rentang waktu itu mengisyaratkan gas tidak langsung meledak saat guncangan, melainkan sempat terkumpul dulu. Inspeksi awal mendapati bau gas, yang memperkuat dugaan akumulasi di ruang tertutup mal.
Jaringan pipa bawah tanah dan tangki 9.367 kg LPG di area mal

Menurut keterangan pihak Aeon yang dihimpun media, LPG disimpan di tangki berkapasitas 9.367 kg di area mal. Gas dialirkan lewat pipa bawah tanah, lalu masuk jaringan yang terpasang di lantai dan dinding menuju zona pengguna.
Sejumlah sumber menyebut isi tangki tersisa mendekati volume biasa. Itu mengarahkan analisa ke sisa gas di pipa yang bocor dan mengumpul di dalam mal hingga memicu ledakan. Pola residual gas pascaguncangan di ruang publik tertutup berbeda dari kebakaran pasar atau kafe yang kerap berawal dari selang atau regulator di titik masak.
Temuan bau gas serta pemeriksaan polisi-pemadam Prefektur Kumamoto
Kepolisian dan petugas pemadam Prefektur Kumamoto menemukan laporan bau gas di dalam gedung saat memeriksa lokasi. Temuan ini sejalan dengan skenario kebocoran yang sempat menumpuk sebelum percikan atau sumber api memicu ledakan.
Pada Kamis 5 Agustus 2026, kementerian ekonomi Jepang menyampaikan penilaian soal kemungkinan kebocoran gas LPG, dilansir ANN. Penyebab pastinya tetap dalam penyelidikan, termasuk titik retak atau sambungan pipa yang terdampak getaran.
Penggunaan LPG untuk memasak dan pendingin di zona restoran mal
LPG di mal dipakai restoran dan penyewa lain terutama untuk memasak serta memanaskan air. Aeon merinci pemakaian di restoran sisi utara lantai satu, pujasera sisi timur lantai dua, serta sistem pendingin ruangan.
Distribusi dari tangki besar lewat pipa membuat satu titik bocor bisa menyebar ke volume udara di lantai. Di Indonesia, rantai risiko serupa muncul dalam bentuk lain. Satreskrim Polres Pelabuhan Tanjung Priok membongkar pengoplosan LPG subsidi 3 kg ke tabung portabel. Pertamina Patra Niaga menekankan Bright Gas Can didominasi butana dengan tekanan lebih rendah, sedangkan LPG 3 kg berisi campuran propana-butana bertekanan lebih tinggi, sehingga pengisian rakitan berisiko overfilling dan rusaknya katup.
Di Pasar Teluk Dalam Banjarmasin, Jumat 7 Agustus 2026 sekitar pukul 09.00 Wita, kebakaran yang berdampak pada belasan hingga 17 kios diduga dipicu kebocoran selang elpiji 3 kg di warung makan milik Rahmawati (61). Ia baru mengganti tabung saat melayani pembeli ketika api muncul. Saksi Surya menariknya dan tabung; tabung sempat meletup sekali hingga api membesar. Belum ada korban jiwa yang dilaporkan.
Di Medan, ledakan rumah di Grand Polonia pada 20 Juli sore sekitar pukul 15.30 WIB sempat dikaitkan indikasi kebocoran pipa gas tanam oleh Kapolrestabes Medan Kombes Pol Jean Calvijn Simanjuntak. Area Head PGN Medan Agus Kurniawan menyatakan deteksi 0 ppm gas metana di lokasi, sementara PGN menunggu investigasi resmi. Perbandingan itu menunjukkan polemik gas pipa versus LPG tabung sering menyisakan celah penafsiran awal.
Status penyelidikan kementerian ekonomi Jepang soal sumber kebocoran
Kementerian masih mendalami sumber kebocoran. Dalam rangkuman Optimaise News, pernyataan resmi menekankan LPG di restoran dan pendingin sebagai konteks penggunaan, bukan penutupan kasus.
Bagi pembaca di Indonesia, kasus Kumamoto menekankan pemeriksaan residual di pipa setelah guncangan atau getaran, selain cek selang, regulator, dan penolakan tabung oplosan. Beli LPG atau gas portabel lewat jaringan resmi serta laporkan dugaan pengoplosan ke aparat tetap imbauan praktis yang muncul di kasus Tanjung Priok.







