Jakarta, Optimaise News – ITSEC Asia membuka Cybersecurity Academy dan AI Academy sebagai respons darurat talenta digital di Indonesia yang mencapai kesenjangan 6 juta orang. Langkah ini diharapkan mampu menutup kekurangan suplai SDM yang saat ini hanya sekitar 3 juta orang padahal diprediksi dibutuhkan minimal 9 juta sebelum 2030. Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menegaskan bahwa pemerintah tidak bisa menyelesaikan masalah ini sendirian.
Inti artikel
- Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menegaskan bahwa pemerintah tidak bisa menyelesaikan masalah ini sendirian
- Peluncuran pelatihan siber dan kecerdasan buatan ini bertepatan dengan amanat pemerintah untuk membangun fondasi ekonomi digital yang kuat
- Kesenjangan antara permintaan dan penawaran talenta digital saat ini sangat mengkhawatirkan
Peluncuran pelatihan siber dan kecerdasan buatan ini bertepatan dengan amanat pemerintah untuk membangun fondasi ekonomi digital yang kuat. ITSEC Asia memanfaatkan pengalaman 16 tahun CEO Patrick Rudolf Dannacher untuk menciptakan kurikulum yang berfokus pada aplikasi praktis di dunia industri.
Kesenjangan Talenta Digital Indonesia
Kesenjangan antara permintaan dan penawaran talenta digital saat ini sangat mengkhawatirkan. Dengan hanya 3 juta profesional yang tersedia, kebutuhan mendatang mencapai 9 juta orang pada 2030. Nezar Patria menyatakan bahwa kesenjangan ini sulit ditutup oleh pemerintah saja karena kompleksitas kebutuhan teknologi di berbagai sektor.
Menteri Komunikasi dan Digital di bidang sains dan teknologi, Stella Christie, menambahkan bahwa AI bisa membantu mengatasi berbagai persoalan dalam negeri asalkan talenta yang menguasai teknologi dan data dasarnya tersedia dalam jumlah besar. Hal ini menjadi dasar mengapa inisiatif pelatihan seperti yang digelar ITSEC Asia begitu penting.
ITSEC Asia Membuka Pelatihan Siber dan AI

Pelatihan siber dan AI di Indonesia Darurat Talenta Digital ini diformulasikan khusus untuk menciptakan profesi yang kompeten. ITSEC Asia mengintegrasikan pengalaman praktis 16 tahun CEO Patrick Rudolf Dannacher ke dalam setiap modul. Filosofi utama mereka adalah tidak hanya melatih pembela, tetapi juga menciptakan mereka.
Para peserta akan diajak memahami perspektif defensif untuk membangun benteng keamanan digital sekaligus ofensif menemukan kerentanan sistem sebelum dieksploitasi pihak luar. Sementara itu, modul AI menekankan penguatan tata kelola data berbasis kecerdasan buatan.
Desain Akademi yang Praktis dan Terstruktur
Akademi ini dirancang secara berjenjang mulai dari asesmen awal untuk memetakan kemampuan calon peserta, penyajian teori, latihan intensif, hingga evaluasi akhir. Pendekatan ini memastikan setiap lulusan siap menghadapi tuntutan industri tanpa perlu masa adaptasi panjang.
Kesempatan bagi pelaku UMKM dan perusahaan digital untuk ikut serta dalam program ini terbuka lebar. Dengan demikian, inisiatif ITSEC Asia tidak hanya mengatasi kekurangan talenta nasional tetapi juga turut mempercepat pertumbuhan ekonomi digital di berbagai daerah.
Manfaat bagi Ekonomi Digital Indonesia
Program akademi ini memberikan harapan besar bagi pengembangan SDM berkualitas. Bagi pelaku UMKM yang masih banyak bergantung pada teknologi sederhana, pemahaman mendalam tentang siber dan AI akan meningkatkan efisiensi dan keamanan operasional mereka. Selain itu, talenta muda yang terbentuk akan menjadi fondasi inovasi teknologi di masa depan.







