Medan, Optimaise News – Kehadiran item damage berdasarkan persentase HP di empat MOBA besar memaksa hero tank meninggalkan build pure durability. Blade of the Ruined King di League of Legends, Demon Hunter Sword di Mobile Legends, Doomsday di Honor of Kings, dan Fafnir’s Talon di Arena of Valor mengubah peta kekuatan secara signifikan.
Inti artikel
- Kehadiran item damage berdasarkan persentase HP di empat MOBA besar memaksa hero tank meninggalkan build pure durability
- Meta yang semakin agresif menuntut perombakan itemisasi agar tank tetap relevan di medan perang
- Tanpa penyesuaian cepat, hero dengan tumpukan HP tinggi justru jadi mangsa empuk bagi marksman yang mengandalkan serangan biasa
Meta yang semakin agresif menuntut perombakan itemisasi agar tank tetap relevan di medan perang. Tanpa penyesuaian cepat, hero dengan tumpukan HP tinggi justru jadi mangsa empuk bagi marksman yang mengandalkan serangan biasa. Perubahan ini terjadi di hampir semua level permainan dari casual hingga pro scene.
Mekanisme Damage Persentase yang Menyamakan Empat MOBA
Item anti-tank memberi bonus damage berdasarkan sisa HP target agar tank tidak kebal total. Semakin tinggi HP musuh, semakin besar damage yang dihasilkan tiap kali basic attack mendarat.
Blade of the Ruined King di League of Legends menambah physical damage pada setiap serangan biasa. Item ini juga memberikan AD, attack speed, dan life steal yang membuat pemakainya sangat tangguh dalam duel panjang.
Item tersebut sudah sering di-nerf karena terlalu efektif melawan frontline gemuk. Developer terus menyesuaikan angkanya agar tidak merusak keseimbangan game.
Demon Hunter Sword di Mobile Legends memberikan 8 persen sisa HP target sebagai damage tambahan. Marksman seperti Claude, Moskov, Melissa, dan Sun hampir selalu memprioritaskannya di mid game untuk menembus tank.
Doomsday di Honor of Kings dan Fafnir’s Talon di Arena of Valor berfungsi dengan prinsip yang sama. Keduanya khusus untuk hero physical yang mengandalkan serangan biasa agar bisa mengikis HP lawan secara proporsional.
Mekanisme ini menyamakan cara kerja anti-tank di keempat game. Tujuan desainnya jelas: tank harus tetap tangguh namun tetap bisa ditumbangkan dalam teamfight.
HP Tinggi Berubah Jadi Kerentanan Utama Tank

Dulu HP tinggi menjadi benteng utama dan kebanggaan hero tank. Sekarang justru berubah menjadi kerentanan utama yang dimanfaatkan lawan dengan sangat baik.
Setiap basic attack dari marksman yang memakai item ini menyedot damage proporsional dari total HP tank. Build pure durability yang hanya menumpuk hit point tanpa perhitungan justru mempercepat kematian di medan perang.
Tank dengan 5000 HP lebih rentan dibanding rekan yang punya 3500 HP plus utility tambahan. Logika lama di mana semakin gemuk semakin aman terbalik total di meta sekarang.
Perubahan ini memicu perdebatan sengit di komunitas. Apakah item damage persentase HP murni penekan tank atau justru pemicu overhaul total strategi build di semua MOBA.
Armor Saja Tak Cukup Saat Basic Attack DPS Mengandalkan Item Ini
Armor klasik melindungi dari damage physical flat dengan cukup baik. Namun damage berdasarkan persentase HP tetap menggigit keras meski armor sudah ditumpuk setinggi mungkin.
Basic attack DPS yang menumpuk attack speed bersama item anti-tank menghasilkan damage konsisten yang sulit dihentikan. Tank pure armor kesulitan bertahan lama saat teamfight berlangsung lebih dari 10 detik.
Di Mobile Legends, Claude dengan Demon Hunter Sword bisa mengikis HP tank dalam hitungan detik saja. Situasi mirip terjadi di League of Legends ketika marksman mengaktifkan Blade of the Ruined King di target gemuk.
Akibatnya, itemisasi pure armor kehilangan daya tarik di ranked. Pemain tank harus mencari cara bertahan yang lebih cerdas daripada sekadar menumpuk resistansi fisik.
Pilihan Build Hybrid yang Kini Dipilih Tank Pro
Pro player tank kini beralih ke pilihan build hybrid. Mereka mencampur item durability dengan utility, regenerasi, atau bahkan damage ringan agar tetap berkontribusi di teamfight.
Beberapa tank menambahkan item yang memberi shield atau lifesteal sendiri. Lainnya fokus pada crowd control lebih kuat sambil mengurangi pure HP stack yang berlebihan.
Di meta saat ini, pure tank jarang terlihat di ranked tinggi atau turnamen. Hybrid memungkinkan tank survive lebih lama sekaligus mengancam backline lawan dengan sedikit ancaman.
Perubahan ini membuat itemisasi jauh lebih dinamis. Pemain harus menyesuaikan setiap match berdasarkan draft musuh dan komposisi lawan.
Pemain yang sukses adalah mereka yang paham kapan mengurangi tumpukan HP dan kapan menambah efek lain. Adaptasi cepat menjadi kunci utama bertahan di meta yang terus bergerak.
Upaya Developer Menjaga Tank Tetap Playable
Developer keempat MOBA besar terus mengawasi dan menyeimbangkan item-item anti-tank tersebut. Blade of the Ruined King kerap mendapat nerf agar tidak terlalu mendominasi meta physical.
Tujuan utama desain tetap menjaga tank tangguh namun tetap bisa ditumbangkan. Mereka tidak ingin role tank hilang relevansi di tengah meta yang semakin agresif.
Nerf berkala, penyesuaian angka damage, dan balancing hero dilakukan agar keseimbangan terjaga. Tank tetap punya tempat di meta asalkan pemain mau beradaptasi.
Perdebatan soal apakah item ini murni alat penekan tank atau pemicu inovasi build masih berlanjut di forum dan media sosial. Yang jelas, meta terus memaksa semua role berevolusi termasuk tank.
Bagi pemain tank, ini saatnya belajar build hybrid yang lebih fleksibel. Mereka yang kaku pada pure durability akan kesulitan naik rank dan berkontribusi di musim mendatang.







