Jawa Barat, Optimaise News – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi datang langsung ke rumah duka keluarga Sumarna di Purwakarta. Di sana istri almarhum menceritakan percakapan terakhir yang sangat biasa sebelum suami berangkat tugas.
Inti artikel
- Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi datang langsung ke rumah duka keluarga Sumarna di Purwakarta
- Di sana istri almarhum menceritakan percakapan terakhir yang sangat biasa sebelum suami berangkat tugas
- Sumarna, satpam berusia 40 tahun, ditemukan tewas tangan terborgol mengambang di Tanggul Kayat Waduk Jatiluhur pada 24 Juli 2026
Sumarna, satpam berusia 40 tahun, ditemukan tewas tangan terborgol mengambang di Tanggul Kayat Waduk Jatiluhur pada 24 Juli 2026. Obrolan ringan sehari-hari itu justru membentuk kontras tajam dengan misteri kematian yang hingga kini gelap dan tanpa tersangka.
Kunjungan Dedi Mulyadi dan Curhat Istri di Rumah Duka
Dedi Mulyadi meluangkan waktu menemui keluarga korban di rumah duka. Ia duduk bersama istri Sumarna yang masih terpukul. Pertemuan itu menjadi ruang curhat yang tenang di tengah duka mendalam.
Dalam pertemuan tersebut Dedi menyerahkan santunan Rp25 juta. Ia juga mengangkat putri bungsu korban sebagai anak asuh dan menjamin biaya pendidikan hingga dewasa. Langkah ini disambut lega keluarga yang telah kehilangan tulang punggung setelah 17 tahun pengabdian.
Liputan Optimaise News mencatat kunjungan ini juga memuat desakan agar Polres Purwakarta segera mengungkap kasus. Rasa aman masyarakat di sekitar objek vital waduk menjadi perhatian utama sang gubernur.
Isi Obrolan Ringan yang Diingat Istri Sebelum Suami Bertugas

Istri Sumarna, Siti Maryam, menyampaikan detail percakapan terakhir kepada Dedi Mulyadi. Ia menegaskan tidak ada hal spesial atau aneh. Hanya omongan ringan yang biasa mereka lakukan setiap hari.
Siti sempat mengingatkan suami soal rapat di kantor desa. Alasan pengingat itu sederhana karena Sumarna juga aktif sebagai anggota Linmas. Suami menjawab santai lalu berjanji akan memberikan uang sebelum berangkat.
Janji uang dan pengingat rapat itu kini menjadi potongan memori yang terus diputar. Tidak ada nada cemas atau isyarat bahaya dalam suara suami. Normalitas percakapan justru membuat kepergiannya terasa lebih menghantui.
Aktivitas Sumarna Sepulang Shift Malam hingga Berpamitan
Setelah menyelesaikan shift malam Sumarna pulang ke rumah. Ia langsung mengantar anak-anak ke sekolah seperti rutinitas harian. Dua anaknya masih bersekolah dan selalu diantar ayah sebelum berangkat lagi.
Sesampai di rumah Sumarna berbaring sambil bermain ponsel. Ia tampak santai dan tidak menunjukkan tanda lelah berlebih. Tidak lama kemudian ia berpamitan untuk piket malam berikutnya.
Korban sempat tak bisa dihubungi selama menjalankan tugas. Keluarga baru menyadari keanehan saat berita penemuan mayat di waduk beredar. Urutan aktivitas sepulang shift malam itu kini digali penyidik sebagai bagian kronologi.
Status Penyelidikan: Belum Ada Tersangka di Objek Vital
Penyidik Polres Purwakarta belum menetapkan tersangka. Pelaku masih misterius meski sudah memeriksa 15 saksi. Pra-rekonstruksi digelar berulang hingga tiga kali untuk merunut gerakan korban.
Hasil visum menunjukkan Sumarna dibunuh di darat lalu dibuang ke waduk. Tidak ditemukan lumpur di paru-paru. Luka di wajah dan kepala disertai jejak jeratan di leher menjadi indikasi kekerasan.
Dua borgol ditemukan masih mengikat tangan korban. Ponsel juga diamankan untuk diperiksa. Kasus ini menjadi salah satu dari dua kejadian kekerasan terhadap satpam yang mencuat di Juli 2026 sehingga tekanan publik meningkat.
Keluhan Minim Penerangan dan CCTV di Sekitar Lokasi
Keluarga dan warga mengeluhkan minimnya penerangan di sekitar Tanggul Kayat. Lokasi kejadian terasa gelap pada malam hari. Kondisi itu mempersulit pengawasan objek vital waduk.
PJT 2 menyatakan 27 kamera CCTV sudah terpasang di kawasan Waduk Jatiluhur. Namun titik penemuan mayat berada sekitar dua kilometer di luar jangkauan kamera. Celah pengawasan itu menjadi sorotan.
Dedi Mulyadi mendesak penuntasan cepat agar rasa aman kembali. Sintesis antara obrolan terakhir yang begitu biasa, janji uang, pengingat rapat Linmas, dan kondisi infrastruktur gelap menciptakan gambaran utuh. Pembaca bisa merasakan betapa normalnya hari terakhir korban berhadapan dengan kegelapan kasus yang belum terpecahkan.







