Harga emas dunia ditutup anjlok hampir 2 persen ke US$4.047,15 per troy ons pada Kamis 23 Juli 2026. Lonjakan ekspektasi The Fed menaikkan suku bunga September ke 83 persen dari 68 persen sehari sebelumnya menjadi jangkar pelemahan ini.
Inti artikel
- Harga emas dunia ditutup anjlok hampir 2 persen ke US$4.047,15 per troy ons pada Kamis 23 Juli 2026
- Lonjakan ekspektasi The Fed menaikkan suku bunga September ke 83 persen dari 68 persen sehari sebelumnya menjadi jangkar pelemahan ini
- Tekanan muncul setelah minyak Brent tembus US$100,69 dan dolar AS menguat ke 101,44
Tekanan muncul setelah minyak Brent tembus US$100,69 dan dolar AS menguat ke 101,44. Reli dua hari emas yang sempat naik 3,08 persen berakhir, meski Jumat 24 Juli harga emas hari ini rebound tipis 0,04 persen ke US$4.048,59.
Emas Tutup US$4.047,15: Reli +3,08% Dua Hari Berakhir
Emas spot menutup sesi Kamis di US$4.047,15 per troy ons. Penurunan itu menghapus hampir seluruh reli 3,08 persen yang dicatat dua hari sebelumnya.
Pada Jumat pagi harga emas hari ini hanya naik 0,04 persen ke US$4.048,59. Aset tanpa imbal hasil kalah daya tarik saat yield obligasi naik dan pasar mematok peluang The Fed lebih agresif.
Optimaise News mencatat pola ini berulang setiap kali ekspektasi suku bunga melonjak mendadak. Investor beralih ke instrumen berbunga lebih tinggi.
Minyak Brent US$100,69 & Serangan Houthi ke Tanker Saudi

Brent melonjak 7 persen ke US$100,69 per barel. WTI ikut naik 6,2 persen ke US$92,19.
Dalam lima hari terakhir Brent sudah naik 19 persen. Level US$100 itu pertama kali dicapai sejak akhir Mei 2026.
Pemicunya klaim Houthi yang menyerang dua tanker minyak Arab Saudi. Eskalasi Timur Tengah langsung memicu aksi beli energi dan mengerek proyeksi inflasi.
Dolar AS 101,44 plus Yield 10 Tahun Tertinggi Setahun Lebih

Indeks dolar AS menguat ke 101,44. Itu level tertinggi sejak 25 Juni 2026.
Yield obligasi AS tenor 10 tahun juga menyentuh titik puncak lebih dari setahun. Kombinasi dolar kuat dan yield tinggi menekan harga emas secara langsung.
Emas dihitung dalam dolar. Saat greenback naik, daya beli investor non-AS melemah dan emas jadi lebih mahal.
| Komoditas | Harga Tutup Kamis | Perubahan | Harga Jumat Awal |
|---|---|---|---|
| Emas | US$4.047,15 | -2% | US$4.048,59 (+0,04%) |
| Perak | US$57,68 | -3,4% | US$57,59 (-0,14%) |
| Brent | US$100,69 | +7% | – |
| WTI | US$92,19 | +6,2% | – |
FedWatch September 83%: Rapat The Fed & Nada Kevin Warsh
CME FedWatch mencatat peluang The Fed menaikkan suku bunga di September melonjak ke sekitar 83 persen. Sehari sebelumnya angkanya masih 68 persen.
Pasar menantikan rapat FOMC dua hari pekan depan. Nada Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed menjadi sorotan utama para pelaku pasar.
Checklist yang dinantikan mencakup pernyataan soal inflasi energi, jalur suku bunga, dan proyeksi dot plot. Sintesis alurnya jelas: serangan Houthi dorong minyak plus 19 persen dalam lima hari, yield dan dolar naik, FedWatch September loncat ke 83 persen, lalu emas hangus 2 persen.
Aset tanpa bunga kalah saat ekspektasi suku bunga melonjak. Inilah alasan harga emas pegadaian dan harga emas org di pasar lokal ikut tertekan meskipun Antam relatif stagnan.
Perak Ambruk 3,4% Usai Reli Empat Hari +7,6%
Perak menutup Kamis di US$57,68 per troy ons, ambruk 3,4 persen. Reli empat hari sebelumnya yang sempat mencapai plus 7,6 persen berakhir total.
Pada Jumat perak hanya bergerak tipis minus 0,14 persen ke US$57,59. Logam mulia ini biasanya lebih volatil dibanding emas saat pasar risk-off.
Tekanan ganda dari dolar 101,44 dan yield 10 tahun tertinggi setahun lebih memukul perak lebih dalam. Investor menunggu kejelasan FOMC sebelum kembali masuk.







