GoTo Raih Laba Rp252 Miliar Q2 2026, Fintech Melampaui On-Demand

GoTo Group catat laba bersih Rp252 miliar Q2 2026 berkat strategi komisi 8% yang menjaga Fintech unggul atas On-demand Services.

Author Image

Dyah

GoTo Raih Laba Rp252 Miliar Q2 2026, Fintech Melampaui On-Demand

CEO GoTo Hans Patuwo mengungkap strategi kebijakan komisi 8 persen yang menjaga profitabilitas Fintech unggul atas On-demand Services. Pendekatan ini menjadi fondasi utama GoTo Group dalam menjaga keberlanjutan bisnis di tengah persaingan ketat industri digital.

Inti artikel

  • CEO GoTo Hans Patuwo mengungkap strategi kebijakan komisi 8 persen yang menjaga profitabilitas Fintech unggul atas On-demand Services
  • Pendekatan ini menjadi fondasi utama GoTo Group dalam menjaga keberlanjutan bisnis di tengah persaingan ketat industri digital
  • GoTo Group berhasil mencatat laba bersih Rp252 miliar pada kuartal II-2026

GoTo Group berhasil mencatat laba bersih Rp252 miliar pada kuartal II-2026. Angka ini menandakan pemulihan signifikan perusahaan yang sempat mengalami kerugian sebelumnya.

Rekor Laba Bersih Rp252 Miliar Kuartal II-2026

GoTo Group melaporkan laba bersih Rp252 miliar di kuartal kedua tahun 2026. Angka tersebut naik 47 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Dengan pencapaian ini, perusahaan kembali ke jalur keuntungan setelah periode sebelumnya yang penuh tantangan.

Fintech Melampaui ODS untuk Pertama Kalinya

Fintech Melampaui ODS untuk Pertama Kalinya
Ilustrasi Fintech Melampaui ODS untuk Pertama Kalinya.

Lini bisnis Fintech GoTo unggul dengan pendapatan lebih dari Rp2 triliun yang meningkat 53 persen secara year on year. EBITDA Fintech mencapai Rp481 miliar dan melonjak 447 persen. Hal ini menandai kemenangan Fintech atas On-demand Services dalam hal profitabilitas untuk pertama kalinya.

Di sisi lain, On-demand Services mencatat pendapatan Rp3,6 triliun dan EBITDA Rp464 miliar dengan peningkatan 41 persen. Keunggulan Fintech terlihat dari efisiensi dan fokus pada bisnis inti yang bernilai tambah tinggi.

Dampak Kebijakan Komisi 8% terhadap Kinerja

Kebijakan komisi 8 persen yang mulai berlaku 1 Juli 2026 memberikan stabilitas operasional bagi GoTo Group. Setelah berjalan selama satu bulan, perusahaan melaporkan bahwa kinerja bisnis lebih terkendali dibandingkan sebelum kebijakan ini diterapkan. Strategi ini membantu menjaga profitabilitas di segmen Fintech sebagai prioritas utama.

Komisi yang lebih rendah namun terkontrol memungkinkan GoTo Group menyesuaikan harga dan layanan dengan lebih cepat, sehingga meningkatkan loyalitas pelanggan dan efisiensi biaya.

Penyesuaian Target EBITDA Grup dan Bisnis

GoTo Group menyesuaikan target EBITDA Grup yang tetap berada di kisaran Rp3,2 triliun hingga Rp3,4 triliun. Target Fintech dinaikkan menjadi Rp1,7 triliun hingga Rp1,8 triliun sementara On-demand Services disesuaikan turun menjadi Rp1,4 triliun hingga Rp1,5 triliun. Penyesuaian ini mencerminkan komitmen perusahaan untuk memperkuat profitabilitas di Fintech.

Sintesis target EBITDA yang disesuaikan ini memberikan gambaran lengkap bagaimana GoTo Group mengoptimalkan sumber daya untuk dua lini bisnis utama.

Margin Perbaikan di Segmen Delivery dan Mobility

GoTo Group mencatat perbaikan margin bisnis di segmen delivery dan mobility berkat kebijakan komisi 8 persen. Margin delivery naik menjadi 2,1 persen dari 1,8 persen sebelumnya. Sementara margin mobility meningkat menjadi 5,0 persen dari 3,0 persen.

Perbaikan ini terlihat jelas di GoFood dan GoSend untuk delivery serta GoRide dan GoCar untuk mobility. Dengan margin yang lebih baik, perusahaan berpotensi meningkatkan efisiensi operasional dan memberikan nilai lebih bagi pelanggan serta investor.

Perbandingan Kinerja Fintech dan On-Demand Services Q2 2026

Berikut tabel perbandingan kinerja antara lini bisnis Fintech dan On-Demand Services pada kuartal II-2026 yang disusun berdasarkan data resmi:

Lini Bisnis Pendapatan EBITDA Perubahan YoY
Fintech Lebih dari Rp2 triliun Rp481 miliar +53% / +447%
On-Demand Services Rp3,6 triliun Rp464 miliar N/A / +41%

Tabel ini membantu melihat gambaran lengkap bagaimana Fintech berhasil melampaui On-demand Services dalam hal profitabilitas meskipun pendapatan On-demand Services lebih besar.

Dyah
Redaktur Hiburan

Dyah adalah redaktur hiburan Optimaise News. Meliput film, selebriti, drama Asia, dan industri hiburan regional. Menyusun berita hiburan berbasis rilis, unggahan resmi, dan konteks industri agar pembaca mendapat ringkasan yang jelas, bukan sekadar copas judul viral.