Jakarta, Optimaise News – Raabi’atul Adawiyyah didampingi keputusan sultan brunei bahwa gelar yang Amat Mulia Pengiran Anak Isteri dicabut efektif 8 Agustus 2026. Pemegang gelar tersebut terbit dari keluarga kerajaan Brunei dengan empat putri yang lahir beruntutan setelah majelis akad nikah diraja pada 2015. Kejadian ini melibatkan peristiwa berat yang memengaruhi posisi keluarga kerajaan di darussalam Brunei yang dikenal luas.
Inti artikel
- Raabi’atul Adawiyyah didampingi keputusan sultan brunei bahwa gelar yang Amat Mulia Pengiran Anak Isteri dicabut efektif 8 Agustus 2026
- Kejadian ini melibatkan peristiwa berat yang memengaruhi posisi keluarga kerajaan di darussalam Brunei yang dikenal luas
- Raabi’atul Adawiyyah lahir pada 27 Oktober 1992 sebagai putri kedua dari sepuluh bersaudara dalam lingkungan keluarga kerajaan
Kehidupan Awal dan Pendidikan Raabi’atul Adawiyyah
Raabi’atul Adawiyyah lahir pada 27 Oktober 1992 sebagai putri kedua dari sepuluh bersaudara dalam lingkungan keluarga kerajaan. Ia menyelesaikan ujian sekolah dasar pada 2005, sertifikat sekolah agama rendah tahun 2008, serta ujian umum O Level tahun 2010.
Aktivitas awal dirinya mencerminkan perhatian tinggi terhadap pendidikan agama dan umum. Masa-masa awal ini menjadi dasar perjalanan karir yang digerakkan dari sekolah rendah rimba hingga tingkat lanjut sebelum terjun ke dunia pekerjaan.
Kemenangan Kontes dan Karier Profesional
Raabi’atul Adawiyyah meraih penghargaan sebagai pembaca Al-Qur’an terbaik di kompetisi Miss World Muslimah tahun 2013 di Indonesia. Ia bekerja sebagai analis sistem data di BAG Networks mulai tahun 2012 dan bertindak sebagai instruktur teknologi di HAD Technologies sejak tahun 2013.
Karier profesionalnya menunjukkan kombinasi antara analisis data dan pengajaran teknologi. Pencapaian itu mencerminkan kepribadian yang berani serta dukungan keluarga saat menghadapi tantangan dunia kontemporer.
Perjalanan Pernikahan hingga Kelahiran Keempat Putri
Majelis akad nikah diraja diadakan pada 8 April 2015 di Istana Nurul Iman. Acara tersebut dihadiri para sultan Asia Tenggara termasuk kepala negara dari negara terkait di wilayah tersebut.
Putri pertama bernama Muthee’ah lahir 2 Maret 2016, diikuti Fathiyyah 10 Maret 2018, Khaalishah 5 Januari 2020, serta Nabeelah 9 April 2025. Keempat putri tersebut mendapat gelar Pengiran Anak menurut tradisi keluarga kerajaan.
Pencabutan Gelar dan Reaksi Kerajaan
Keputusan sultan brunei menjadi titah pengambilan gelar tersebut dikeluarkan oleh pihak istana. Pengumuman resmi dilakukan oleh Kantor Kepala Protokol Kerajaan pada tahun 2026.
Peristiwa ini mencerminkan dinamika kekuasaan dalam kerajaan darussalam Brunei. Sebagaimana dilaporkan Optimaise News, hal ini memperkuat pemahaman publik tentang interaksi antara keluarga kerajaan dan urusan pangkat istimewa.







