Bogor, Optimaise News – Febriansah alias Febri, pemuda asal Bogor berusia 22 tahun, mencetak sukses dengan mengubah ruang tamu rumahnya menjadi kelas belajar laptop pribadi. Kelas @ensabbahouselearn ini langsung viral setelah video yang diunggahnya di Instagram dan TikTok ditonton lebih dari 1,3 juta hingga 1,4 juta kali. Banyak orang tua yang rela datang dari jauh demi anak mereka bisa belajar komputer sejak dini.
Inti artikel
- Banyak orang tua yang rela datang dari jauh demi anak mereka bisa belajar komputer sejak dini
- Febri mengungkap ide kelas ini lahir saat ia masih menyelenggarakan bimbingan belajar SD biasa
- Penggunaan ruang tamu rumah menjadi pilihan praktis yang langsung menunjukkan kreativitas Gen Z dalam membangun usaha
Optimaise News mencatat inisiatif sederhana ini muncul karena akses laptop masih terbatas bagi banyak anak. Febri bersama kakaknya Dwiki Maulana awalnya membuka les mata pelajaran SD, tapi melihat perangkat yang ada dan potensi yang luas, mereka memutuskan lanjut ke kelas laptop. Hasilnya, kehadiran yang luar biasa dan antusiasme tinggi dari orang tua di sekitar kawasan Bogor.
Les Mapel SD Menjadi Kelas Laptop dengan Bantuan Kakak
Febri mengungkap ide kelas ini lahir saat ia masih menyelenggarakan bimbingan belajar SD biasa. Kebetulan bersama kakaknya ia memiliki perangkat, sehingga saat kelas untuk anak-anak tetangga mulai, mereka hanya merasa ingin coba menyediakan fasilitas yang lebih menarik. Penggunaan ruang tamu rumah menjadi pilihan praktis yang langsung menunjukkan kreativitas Gen Z dalam membangun usaha.
Kelas laptop ini tak hanya latihan mengetik atau membuka dokumen dasar. Anak-anak belajar operasi sistem komputer, aplikasi produktivitas, dan dasar kreativitas digital yang bisa berguna di masa depan. Warga terkejut karena pelatihan sederhana ini memberi kesempatan bagi generasi yang lebih banyak beralih ke gadget daripada perangkat komputer.
Ruang Tamu Digeser Tiap Akhir Pekan Jadi Kelas Nyaman

Tidak semua orang tua mengira ruang tamu rumah bisa jadi kelas belajar. Febri menceritakan prosesnya yang sederhana: dinding yang diwarnai tosca cerah dan diberi karpet motif karakter anak membuat suasana lebih ceria. Sebelum setiap sesi, bangku-bangku di ruang tamu dipindah agar anak-anak bisa duduk dengan nyaman, dan orang tua Febri ikut bantu memasang meja kayu.
Kapasitas pembatasan menjadi kunci agar pembelajaran tetap berkualitas. Hanya maksimal lima anak per sesi dengan durasi satu jam, sehingga setiap peserta mendapat perhatian penuh. Kelas dibuka hanya Sabtu dan Minggu sehingga jadwal orang tua tidak terganggu.
Antrean hingga dari Luar Kawasan, Lihat 1,3 Juta Views
Video yang diunggah akun @febri_ansah18 tak semata sekadar promosi. Febri berkata saat pertama kali membuka kelas ia merasa tidak percaya karena tidak menyangka akan ada peminat luar biasa. Dari kejauhan, anak-anak bermigrasi ke Bogor hanya demi mengikuti kursus itu. Unggahan tersebut langsung mendapat tantang dan dukungan dari warganet yang merasa ide ini tepat untuk menjaga literasi digital anak.
Opini warganet menunjukkan pengakuan luas: satu akun berterima kasih karena ide ini menolong generasi yang sekolahnya tak pernah sediakan komputer. Lainnya menyebut anak kini masih lebih jago gadget daripada memanfaatkan laptop dengan benar. Optimaise News mencatat ada lebih dari 1,3 juta penonton yang ikut menyimak antusiasme itu.
Kapasitas Terbatas dan Harga yang Naik Bertahap
Awalnya Febri memasang tarif Rp10.000 per sesi agar tetap terjangkau. Setelah pertimbangan banyak orang tua, ia menyesuaikan naik menjadi Rp20.000 hingga Rp30.000 per sesi. Harga itu menurutnya masih wajar mengingat durasi satu jam penuh dengan pembelajaran intens. Pendaftaran dilakukan melalui situs resmi mereka di www.ensabbahcom.portku.online dengan menghubungi admin terlebih dahulu.
Alasan Febri: Daripada Pegang Gadget saja, Lebih Baik Dapat Laptop
Febri menjelaskan ia ingin anak-anak tahu manfaat nyata komputer, bukan hanya memegang gadget. Di tengah maraknya teknologi sekarang, banyak anak yang masih belum memiliki fasilitas di rumah atau sekolah. Ia ingin menyumbang cara dasar untuk mewujudkan Indonesia Emas, meski pakai hal yang terlihat biasa saja. Pengalaman melihat anak pertama kali menyentuh laptop membuatnya semakin bersemangat.
Kesempatan ini pun memberi dampak positif pada orang tua yang sekolahnya kurang mendukung fasilitas teknologi. Febri menyarankan Gen Z lain untuk berani membuka usaha rumahan selama ruang dan tempatnya memadai. Tipsnya, mulai dari situasi kecil dapat dimulai sebelum ekspansi lebih luas.







