Jakarta, Optimaise News – Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya pada 10 Agustus 2026 menegaskan peran pemda sebagai bapak asuh agar pegiat game tidak hanya bergantung asosiasi pusat. Langkah ini dituangkan dalam Perpres 37 Tahun 2026 soal Rencana Induk Ekonomi Kreatif 2026-2045 yang menempatkan daerah aktif di garis depan.
Inti artikel
- Periode 2026-2029 diprioritaskan pada empat pilar pembiayaan, pemasaran, pelatihan, dan investasi
- Kemenekraf memadukan dukungan lintas sektor supaya rantai nilai industri digital kreatif tidak macet di level pusat saja
- Pembiayaan diarahkan pada skema yang cocok bagi pengembang skala kecil hingga menengah
Periode 2026-2029 diprioritaskan pada empat pilar pembiayaan, pemasaran, pelatihan, dan investasi. Optimaise News mencatat komitmen itu digarap bersama 22 kementerian/lembaga serta Asosiasi Game Indonesia agar startup lokal tumbuh lebih cepat dan merata.
Empat Pilar 2026-2029 untuk Studio Lokal
Fokus empat tahun ke depan disusun agar studio game memperoleh akses modal, jangkauan pasar, peningkatan keterampilan, serta aliran investasi yang jelas. Kemenekraf memadukan dukungan lintas sektor supaya rantai nilai industri digital kreatif tidak macet di level pusat saja.
Pembiayaan diarahkan pada skema yang cocok bagi pengembang skala kecil hingga menengah. Pemasaran dihubungkan dengan platform dagang dan agenda promosi resmi. Pelatihan menyasar talenta teknis dan manajerial. Investasi digandeng agar proyek game berpeluang scale-up tanpa harus pindah ke luar negeri.
Riefky menekankan pemerintah daerah dilibatkan sebagai penopang sehari-hari. Ia ingin ekosistem tumbuh di kota dan kabupaten, bukan hanya di lingkar asosiasi nasional. Kutipannya menegaskan, “Kami ingin tidak semua pegiat game lari ke asosiasi pusat… pemerintah daerah menjadi bapak asuh.”
Kolaborasi 22 Lembaga dan AGI Perkuat Rantai Nilai

Kemenekraf merangkul 22 kementerian serta lembaga, di antaranya Komdigi dan Kemendag, untuk menyamakan kebijakan. Kolaborasi erat juga dijalin dengan Asosiasi Game Indonesia agar standar industri, jaringan, dan peluang bisnis saling mengisi.
Regulasi yang sedang dirancang bertujuan memperjelas kerja sama lintas sektor sekaligus mengoptimalkan peran daerah. Agenda ini menjadi prioritas di dalam Rencana Induk Ekonomi Kreatif nasional sehingga alokasi program dan anggaran bisa dilacak lebih rapi.
Bagi pelaku UMKM game, kejelasan mitra pusat-daerah memangkas birokrasi. Studio bisa mengurus perizinan, pelatihan, atau akses pameran melalui jalur lokal yang didampingi Kemenekraf, tanpa kehilangan koneksi ke pasar nasional.
Sepuluh Pengembang di Gamescom 2025 jadi Bukti Awal

Sepuluh pengembang game Indonesia dipasang di Gamescom 2025 di Cologne, Jerman. Kehadiran itu menjadi contoh nyata dorongan pemasaran global yang kini dilanjutkan dengan pengawasan startup agar ekspansi berlangsung berkelanjutan.
Kemenekraf berkomitmen mengawasi startup game supaya pertumbuhan tidak berhenti di tahap rilis perdana. Pengawasan mencakup fasilitasi, perlindungan hak cipta kreatif, hingga pengaitan dengan investor yang already terhubung lewat jaringan 22 lembaga mitra.
Dengan pemda sebagai bapak asuh, studio di luar Jakarta berpeluang mendapat inkubasi lebih dekat. Hal ini mengurangi migrasi bakat semata-mata ke pusat, sekaligus membuka ruang eksperimen konten yang bercita rasa daerah.
Dampak bagi UMKM dan Pegiat Game di Daerah
Bagi pemilik studio kecil, empat pilar tersebut memberi peta kerja yang bisa diikuti secara bertahap. Mereka dapat memulai dari pelatihan setempat, melanjutkan ke skema pembiayaan, lalu memanfaatkan saluran pemasaran yang dibuka Kemenekraf dan AGI.
Perpres yang melibatkan pemda aktif juga mendorong kota/kabupaten menyusun roadmap sendiri. Optimaise News melihat pendekatan ini sebagai jalan agar industri game menjadi motor ekonomi kreatif di banyak wilayah, bukan hanya di beberapa hub besar.
Ke depan, keberhasilan jurus tersebut bergantung pada sinkronisasi pusat-daerah dan kedisiplinan pelaksanaan empat pilar hingga 2029. Jika jalur itu tetap terbuka, ekosistem game nasional berpeluang menghasilkan lebih banyak judul lokal yang tembus pasar global tanpa meninggalkan akar daerah.







