Di TS Media, Kisah Lucinta Luna yang Sempat Alami

Author Image

Dyah

18 Juli 2026

Di TS Media, Kisah Lucinta Luna yang Sempat Alami

Lucinta Luna sempat mengalami pendarahan hebat usai menjalani operasi plastik yang ia sebut sebagai “ganti kepala”. Dalam penampilannya di kanal YouTube TS Media, artis itu menyebut pengalaman pascaoperasi itu sebagai near death experience.

Menurut pantauan Optimaise News, kisah Lucinta Luna yang sempat alami pendarahan usai operasi plastik sempat bikin heboh netizen karena ia menggambarkan rasa sakitnya bak sakaratul maut.

Operasi “ganti kepala” yang sempat bikin heboh

Lucinta diketahui telah menjalani sederet operasi plastik demi mendapatkan bentuk wajah dan tubuh yang diinginkannya. Salah satu prosedur yang ia sebut secara terbuka adalah operasi “ganti kepala”.

Istilah itu merujuk pada rangkaian oplas wajah yang cukup masif, bukan penggantian kepala secara harfiah. Ia membagikan pengalaman itu saat menjadi bintang tamu di kanal TS Media.

Curhat Lucinta Luna usai oplas berkali-kali itu menyoroti sisi yang jarang dibahas di depan publik. Bukan hanya hasil estetika, melainkan rasa sakit dan risiko yang ia rasakan setelah prosedur.

Pendarahan hebat dan near death experience

Pendarahan hebat dan near death experience

Pascaoperasi, Lucinta mengaku sempat mengalami pendarahan yang hebat. Kondisi itu membuatnya merasa berada di ambang bahaya serius.

Ia menyebut kejadian tersebut sebagai near death experience. Dalam penuturan yang beredar di media hiburan, rasa sakitnya digambarkan seperti sakaratul maut.

Pengakuan itu muncul bukan dari rilis resmi klinik, melainkan dari cerita lisan Lucinta sendiri di depan kamera. Optimaise News merangkum bahwa penekanan utamanya ada pada rasa sakit luar biasa, bukan rincian medis teknis.

Curhat di TS Media: sisi gelap di balik oplas

Curhat di TS Media: sisi gelap di balik oplas

Di kanal YouTube TS Media, Lucinta berbicara jujur soal operasi yang pernah dilakukannya. Ia tidak hanya menampilkan hasil akhir, tetapi juga momen rawan setelah keluar dari ruang operasi.

Bagi banyak penonton, curhat itu menjadi pengingat bahwa prosedur estetika invasif membawa risiko nyata. Pendarahan hebat yang ia alami menjadi bagian paling menonjol dari kisah tersebut.

Beberapa liputan hiburan kemudian mengaitkan pengakuannya dengan frasa “kayak sakaratul maut”. Frasa itu menggambarkan intensitas nyeri dan ketakutan yang ia rasakan saat pemulihan.

Kenapa kisah ini masih sering dibahas

Kisah Lucinta Luna yang sempat alami pendarahan usai operasi plastik terus muncul di hasil pencarian karena menggabungkan nama selebritas, prosedur kontroversial, dan pengalaman hampir mati. Kombinasi itu membuat penuturannya mudah diingat.

Di Indonesia, oplas selebritas sering dibahas dari sisi penampilan. Cerita Lucinta justru menonjolkan risiko fisik yang jarang dibuka secara detail di depan publik.

Tanpa mengarang data medis di luar penuturannya, nilai tambah dari kisah ini adalah penekanan pada pemulihan yang tidak selalu mulus. Siapa pun yang mempertimbangkan prosedur serupa tetap perlu konsultasi dokter berizin, terpisah dari cerita selebritas.

FAQ

Apa yang dialami Lucinta Luna usai operasi plastik?

Ia semi mengaku mengalami pendarahan hebat setelah prosedur yang disebutnya “ganti kepala”, hingga menyebutnya near death experience.

Di mana Lucinta membagikan kisah itu?

Curhatnya disampaikan saat menjadi bintang tamu di kanal YouTube TS Media, lalu diliput media hiburan Indonesia.

Bagaimana ia menggambarkan rasa sakitnya?

Selain near death experience, rasa sakit pascaoperasi digambarkan seperti sakaratul maut dalam sejumlah liputan terkait.

Apakah Lucinta hanya sekali menjalani oplas?

Tidak. Ia diketahui telah menjalankan sederet operasi plastik untuk menyesuaikan bentuk wajah dan tubuh yang diinginkan.

Penuturan Lucinta Luna soal pendarahan usai oplas tetap menjadi salah satu curhat selebritas paling diingat soal risiko prosedur estetika. Sebagaimana dihimpun Optimaise News, inti ceritanya bukan glamor hasil akhir, melainkan momen rawan yang ia lalui setelah “ganti kepala”.