Bogor, Optimaise News – Pelatih Dewa United Banten Agusti Julbe menyoroti ketimpangan izin penyesuaian jadwal IBL. Klub juara IBL 2025 yang otomatis mewakili Indonesia di BCL Asia-East menanggung beban ganda fisik, sementara lawan mendapat keringanan.
Inti artikel
- Pelatih Dewa United Banten Agusti Julbe menyoroti ketimpangan izin penyesuaian jadwal IBL
- Klub juara IBL 2025 yang otomatis mewakili Indonesia di BCL Asia-East menanggung beban ganda fisik, sementara lawan mendapat keringanan
- Permintaan tunda laga lawan RANS Simba Bogor ke 22 April ditolak liga
Permintaan tunda laga lawan RANS Simba Bogor ke 22 April ditolak liga. RANS justru diizinkan majukan pertandingan dari Minggu ke Sabtu. Optimaise News mencatat pola ini memaksa klub juara cari solusi sendiri.
Keluhan Julbe: Penundaan Ditolak, RANS Justru Diizinkan Maju
Julbe menyatakan skema laga versus RANS Simba Bogor tak bisa diterima pihaknya. Dewa United mengajukan penundaan agar pemain pulih usai BCL Asia-East. IBL menolak usulan tersebut.
RANS mendapat izin memajukan jadwal sebelumnya. Langkah itu membebaskan mereka dari back-to-back. Ketimpangan izin ini jadi inti keluhan juara bertahan.
Klub merasa representasi negara di level Asia tak diimbangi dukungan jadwal domestik. Keputusan liga memicu pertanyaan soal prioritas bagi wakil internasional.
Rentetan 6 Gim Dewa United dalam 11 Hari Kalender

Usai kompetisi BCL Asia-East, Dewa United menghadapi total enam gim dalam 11 hari kalender. Jadwal IBL tetap berjalan tanpa digeser meski pemain baru kembali dari Asia.
Rentetan padat itu mencakup laga beruntun yang menguras stamina. Risiko cedera dan penurunan performa meningkat tajam. Manajemen klub harus hitung matang setiap rotasi.
Beban ini datang tepat setelah tugas mewakili Indonesia. Tanpa relaksasi dari IBL, seluruh konsekuensi fisik ditanggung sendiri oleh skuat Dewa United.
Jejak Pelita Jaya Musim Lalu: 4 Laga 7 Hari Tanpa Relaksasi Liga

Musim lalu Pelita Jaya mengalami kondisi hampir sama. Mereka main empat kali dalam tujuh hari saat jadi wakil BCL. Rute Bogor-Mongolia-PJ Arena dilalui tanpa penyesuaian IBL.
Tidak ada relaksasi jadwal kala itu. Klub terpaksa menanggung sendiri seluruh dampak representasi nasional. Pola berulang kini menimpa Dewa United sebagai juara baru.
Sejarah ini menunjukkan kebijakan liga konsisten tak memberi ruang napas. Wakil Indonesia di Asia selalu bayar harga fisik lebih mahal di kompetisi domestik.
Strategi Klub: Pemain Asing Khusus BCL dan Rotasi Roster
Pelita Jaya dulu mendatangkan Chris McCullough khusus untuk BCL. Anthony Beane hanya dipakai di IBL. Rotasi roster jadi senjata utama jaga kebugaran.
Dewa United menempuh pendekatan serupa. Klub siapkan pemain asing terpisah untuk level Asia dan atur rotasi ketat di IBL. Cara mandiri ini muncul karena absennya dukungan jadwal dari liga.
Strategi ganda roster menelan biaya dan energi ekstra. Namun itu satu-satunya jalan agar skuat tetap kompetitif di dua front berbeda.
Modal Besar Representasi Basket Indonesia di Level Asia
Merasa Harga Mobil di Indonesia Mahal? Ini 3 tantangan nyata yang bikin mewakili Indonesia di BCL Asia-East terasa mahal: jadwal ketat tanpa relaksasi, penolakan penundaan, dan keharusan investasi roster terpisah.
Modal besar tak sebatas uang. Energi pemain, staf, dan fokus tim ikut terkuras. Representasi membanggakan, tetapi Optimaise News melihat IBL perlu tinjau ulang agar wakil negara tak dirugikan di liga sendiri.
Tanpa penyesuaian setara, setiap juara IBL akan terus bayar harga mahal. Harapan ke depan liga berikan ruang napas yang adil bagi yang bawa bendera Indonesia ke Asia.







