Penasihat senior FIFA mundur sebagai protes langsung atas rencana penjualan saham Piala Dunia yang dianggap merugikan masa depan olahraga.
Carlos Cordeiro, penasihat senior Presiden FIFA Gianni Infantino, mengundurkan diri pada 31 Juli 2026. Keputusan ini muncul sebagai bentuk penolakan keras terhadap rencana badan baru yang akan melibatkan penjualan saham turnamen besar termasuk Piala Dunia 2026. Langkah tersebut dinilai sangat merugikan karena mengorbankan prinsip inti sepakbola demi keuntungan bisnis sesaat.
FIFA saat ini berada di posisi keuangan yang kuat. Pendapatan mereka mencapai 15 miliar dolar Amerika Serikat antara tahun 2022 hingga 2026 tanpa ada utang sama sekali. Rencana ini seolah menggeser fokus dari keadilan olahraga menjadi penjualan aset paling berharga demi mengumpulkan 4,2 miliar dolar AS.
Latar Belakang Rencana FIFA Forward Enterprise
FIFA merencanakan pembentukan badan bernama FIFA Forward Enterprise sebagai alat baru untuk mengelola bisnis di luar lapangan hijau. Tujuannya adalah mengembangkan ekonomi olahraga melalui berbagai investasi dan penjualan saham turnamen besar. Badan ini akan menjadi penjembatan antara olahraga dan pasar komersial yang lebih luas.
Carlos Cordeiro yang mewakili FIFA dalam Gugus Tugas Gedung Putih untuk persiapan Piala Dunia 2026 menolak keras rencana tersebut. Menurutnya, pendekatan ini berisiko mengubah identitas sepakbola yang selama ini bersifat non-komersial. FIFA punya cadangan pendapatan tinggi tanpa beban utang, sehingga langkah menjual aset paling berharga terasa tidak logis dan merugikan.
Alasan Carlos Cordeiro Mundur dari FIFA
Carlos Cordeiro mengundurkan diri dengan alasan yang tegas. Ia menyatakan bahwa ini adalah kesepakatan buruk bagi para anggota FIFA, keputusan buruk buat sepakbola, serta masa depan permainan ini. Alasan utamanya adalah kekayaan organisasi yang saat ini sangat kuat.
Dengan pendapatan 15 miliar dolar AS tanpa utang, FIFA seharusnya bisa bertahan mandiri. Menjual aset berharga untuk mengumpulkan 4,2 miliar dolar AS justru dianggap sebagai langkah yang salah karena mengorbankan kontrol dan kepemilikan jangka panjang. Cordeiro juga menyoroti risiko tertinggal jika proposal ini tidak diterima dengan cepat sebelum tenggat waktu yang diberikan.
Reaksi UEFA dan Konfederasi terhadap Proposal Penjualan Saham
Reaksi dari konfederasi regional langsung datang dengan ancaman serius. UEFA mengancam akan memboikot Piala Dunia jika rencana tersebut dilaksanakan. Ancaman serupa datang dari AFC dan CONCACAF yang khawatir dengan dampaknya terhadap kompetisi global dan prinsip kesetaraan.
Semua ini terjadi dalam konteks 211 asosiasi anggota FIFA yang harus memutuskan pendapat mereka sebelum tenggat waktu 19 September 2026. Keputusan ini menentukan nasib rencana penjualan saham tersebut. Reaksi ini menunjukkan persatuan di kalangan penjaga sepakbola dunia untuk melindungi olahraga dari campur tangan bisnis yang berlebihan.
Tekanan pada Gianni Infantino di Tengah Krisis
Tekanan semakin bertambah pada Presiden FIFA Gianni Infantino. Mundurnya penasihat seniornya ini menjadi sinyal buruk bagi pimpinan organisasi di tengah berbagai isu yang sedang berkembang. Banyak pengamat melihat bahwa rencana ini bisa melemahkan posisi Infantino jika tidak mendapat dukungan luas dari anggota.
Krisis ini menguji kemampuan Infantino dalam mengelola kepentingan bisnis dan sepakbola. Dengan mundurnya Cordeiro yang mewakili dalam Gugus Tugas Gedung Putih, citra organisasi semakin terancam. Banyak anggota berpikir rencana ini bisa merugikan masa depan olahraga dunia jika tidak segera ditinjau ulang.
Dampak Jangka Panjang bagi Piala Dunia 2026
Dampak jangka panjang dari skandal ini bisa sangat merusak. Jika UEFA benar-benar boikot, Piala Dunia 2026 yang diadakan di tiga negara Amerika Utara bisa kehilangan dukungan Eropa yang merupakan basis terbesar peserta. Ini bisa mengubah seluruh kompetisi FIFA, termasuk kualifikasi dan turnamen regional lain.
Penjualan saham berarti kehilangan kepemilikan dan kontrol atas masa depan Piala Dunia. FIFA punya pendapatan miliaran dolar tanpa utang, sehingga menjual aset untuk 4,2 miliar dolar adalah langkah yang tidak diperlukan. Ini berisiko menggeser fokus dari keadilan dan kesetaraan dalam sepakbola.
Berikut sintesis timeline lengkap dari mundurnya Carlos Cordeiro hingga tenggat keputusan:
– 31 Juli 2026: Carlos Cordeiro mengundurkan diri sebagai protes awal. – Juli 2026: Rencana FIFA Forward Enterprise diumumkan secara resmi. – September 2026: 211 anggota FIFA harus memilih mendukung atau menolak proposal. – Jika boikot terjadi, Piala Dunia 2026 berisiko kehilangan keunikan sebagai acara global.
Analisis lebih lanjut menunjukkan mengapa rencana ini dianggap buruk. Dengan pendapatan 15 miliar dolar AS tanpa utang, organisasi ini seharusnya bisa bertahan tanpa perlu menjual aset berharga. Perbandingan langsung antara pendapatan saat ini dan target 4,2 miliar dolar AS membuat langkah ini terasa tidak rasional. Potensi boikot UEFA bisa memengaruhi seluruh kompetisi FIFA karena Eropa menyumbang sebagian besar pendapatan dan partisipan. FIFA harus mempertimbangkan kembali pendekatan ini agar tidak merugikan masa depan olahraga dunia.







