BRT Cekungan Bandung Dimulai, Target 99 Ribu Penumpang/Hari

BRT Cekungan Bandung dimulai Rp1,3 triliun. Proyeksi World Bank 99.000 penumpang harian, 21% shift, headway 7 menit, operasi 2027 kurangi macet Bandung Raya.

Author Image

Robbi Cahya Yudha

BRT Cekungan Bandung Dimulai, Target 99 Ribu Penumpang/Hari

– Bukan sekadar peletakan batu pertama, proyek Bus Rapid Transit Cekungan Bandung mengusung proyeksi dampak besar dari World Bank. Sekitar 99.000 penumpang harian diperkirakan memakai layanan ini, di mana 21 persen di antaranya beralih dari kendaraan pribadi di kawasan termacet Indonesia.

Inti artikel

  • Bukan sekadar peletakan batu pertama, proyek Bus Rapid Transit Cekungan Bandung mengusung proyeksi dampak besar dari World Bank
  • Target operasi 2027 diharapkan meredakan kemacetan yang kini hanya 18 km per jam dengan kerugian waktu hingga 108 jam per tahun
  • Layanan BRT ini menjangkau lima wilayah sekaligus: Kota Bandung, Cimahi, Kabupaten Bandung, Bandung Barat, dan Sumedang

Investasi Rp1,3 triliun itu juga menjanjikan potongan waktu tempuh rata-rata 11 persen, akses lapangan kerja naik 25 persen, dan pengurangan emisi karbon bertahap 196.000 ton CO2. Target operasi 2027 diharapkan meredakan kemacetan yang kini hanya 18 km per jam dengan kerugian waktu hingga 108 jam per tahun.

Lima Wilayah Satu Jaringan: Koridor 21 Km Jadi Tulang Punggung

Layanan BRT ini menjangkau lima wilayah sekaligus: Kota Bandung, Cimahi, Kabupaten Bandung, Bandung Barat, dan Sumedang. Koridor steril 21 kilometer menjadi tulang punggung yang menghubungkan pusat aktivitas dan hunian padat di Cekungan Bandung.

Satu jaringan terpadu memudahkan pergerakan lintas kota tanpa ganti moda berulang kali. Warga bisa menempuh perjalanan antarwilayah dengan lebih efisien dan terencana.

Desain ini menempatkan koridor utama sebagai poros, sementara rute pendukung memperluas jangkauan ke area-area yang selama ini sulit dijangkau transportasi massal.

Rp1,3 Triliun untuk Jalur Steril, 34 Stasiun, Ratusan Halte, dan ITS

Rp1,3 Triliun untuk Jalur Steril, 34 Stasiun, Ratusan Halte, dan ITS
Ilustrasi rp1,3 Triliun untuk Jalur Steril, 34 Stasiun, Ratusan Halte, dan ITS.

Anggaran infrastruktur sekitar Rp1,3 triliun dialokasikan untuk jalur khusus, 34 stasiun BRT, ratusan halte, depo, serta sistem pendukung. Di luar stasiun on-corridor terdapat sekitar 719 bus stop dan ratusan armada yang disiapkan.

Sistem transportasi cerdas atau ITS menjadi komponen penting, bukan sekadar item anggaran. ITS menopang kepastian interval kedatangan agar layanan tetap andal di jam sibuk maupun sepi.

Pembangunan fisik sudah berjalan usai peletakan batu pertama. Langkah ini menandai pergeseran dari perencanaan ke eksekusi nyata di lapangan.

Headway 7 Menit dan Integrasi Kereta-Pengumpan

Headway 7 Menit dan Integrasi Kereta-Pengumpan
Ilustrasi Headway 7 Menit dan Integrasi Kereta-Pengumpan.

Target headway maksimal tujuh menit pada jam sibuk dan 15 menit di jam sepi. Interval sepadat itu membuat penumpang tak perlu menunggu lama di halte.

Delapan belas rute direct service melengkapi koridor utama. Integrasi dengan kereta dan layanan pengumpan membentuk alur perjalanan door-to-door yang mulus.

BRT tidak berdiri sendiri. Ia menjadi tulang jaringan yang saling mendukung sehingga peralihan dari kendaraan pribadi terasa lebih masuk akal bagi warga sehari-hari.

Pinjaman World Bank-AFD plus PSO Jabar Jaga Tarif Terjangkau

Proyek ini bagian dari program Mastran dengan total pembiayaan sekitar Rp3,8 triliun. Sumbernya pinjaman World Bank US$224 juta, AFD US$40 juta, plus dana pendamping pemerintah RI.

Kesepakatan public service obligation atau PSO antara Pemprov Jawa Barat dan pemerintah kab/kota menjadi penjamin keberlanjutan. Skema ini menjaga tarif tetap terjangkau setelah layanan beroperasi penuh.

Tanpa PSO, risiko tarif tinggi bisa menghambat target 21 persen peralihan dari kendaraan pribadi. Komitmen daerah ini menempatkan aksesibilitas warga di atas sekadar seremoni penandatanganan.

Baseline Macet 18 Km/Jam vs Target Operasi 2027

Kecepatan rata-rata di Bandung Raya kini hanya sekitar 18 km per jam. Kerugian waktu akibat kemacetan mencapai 108 jam per tahun. Target operasi 2027 berhadapan langsung dengan baseline keras itu.

Proyeksi World Bank memberi gambaran konkret arti bagi warga: 99.000 penumpang harian, 21 persen shift dari pribadi, waktu tempuh turun 11 persen, akses kerja naik 25 persen, dan emisi turun 196.000 ton CO2 secara bertahap. Perjalanan lebih cepat, biaya lebih terkontrol, udara lebih bersih.

FAQ singkat untuk warga: kapan beroperasi? Target 2027. Seberapa sering bus lewat? Headway tujuh menit jam sibuk. Siapa yang biayai? Campuran pinjaman internasional, APBN, dan PSO daerah. Apakah tarif disubsidi? Ya, lewat skema PSO agar tetap terjangkau. Ringkasan yang dibangun: lima wilayah, koridor 21 km, 34 stasiun, ratusan halte dan bus stop, plus ITS. Manfaat langsung diharapkan terasa begitu layanan full berjalan.

Robbi Cahya Yudha
Head of Editorial

Robbi Cahya Yudha adalah Head of Editorial (kepala redaksi) Optimaise News. Latar SEO Specialist / digital marketing, termasuk pengalaman di KATADATA (Business dan Partnership). LinkedIn: https://id.linkedin.com/in/robbi-cahya-yudha-593a6b20b