Direktur Utama Bank Neo Commerce Eri Budiono menyatakan bank sudah berkomunikasi dengan pemegang saham utama soal rencana naik status menjadi KBMI II. Target modal inti yang harus dicapai mencapai Rp6 triliun, didukung laba kuat semester I 2026 sebesar Rp294,85 miliar.
Inti artikel
- Target modal inti yang harus dicapai mencapai Rp6 triliun, didukung laba kuat semester I 2026 sebesar Rp294,85 miliar
- Langkah ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat posisi BNC di tengah persaingan ketat antar bank nasional
- Dengan modal yang lebih besar, bank ini diharapkan mampu menjaga pertumbuhan kredit dan mendukung program UMKM nasional
Langkah ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat posisi BNC di tengah persaingan ketat antar bank nasional. Dengan modal yang lebih besar, bank ini diharapkan mampu menjaga pertumbuhan kredit dan mendukung program UMKM nasional.
Kebutuhan Modal Rp6 Triliun untuk Naik dari KBMI I ke II
BNC saat ini berada di level KBMI I. Untuk naik ke KBMI II, dibutuhkan tambahan modal inti minimal Rp6 triliun hingga Rp14 triliun. Modal inti BNC per 30 Juni 2026 sudah mencapai Rp4,09 triliun, jadi masih perlu dorongan signifikan agar target tercapai.
Penambahan modal ini akan memperkuat ketahanan bank di masa depan. Regulator OJK mewajibkan bank yang ingin naik kelas memiliki fondasi kuat dan manajemen risiko yang solid. BNC menyadari bahwa modal yang lebih besar akan membuka peluang ekspansi lebih luas tanpa mengandalkan sumber pendanaan luar.
Eri Budiono: Belum Ada Timeline Juknis dari OJK

Direktur Utama BNC Eri Budiono mengakui belum ada jadwal pasti untuk dikeluarkannya juknis oleh OJK. Proses regulasi ini menjadi langkah awal yang krusial agar seluruh mekanisme penambahan modal bisa berjalan mulus.
Bank menunggu regulasi ini agar bisa merencanakan waktu penempatan saham atau instrumen lainnya. Tanpa kepastian timeline, komunikasi dengan pemegang saham tetap berjalan intensif. Eri Budiono menekankan bahwa diskusi internal sudah berlangsung berhari-hari.
Laba Rp294,85 Miliar Bantu Tutup Defisit Rp1,59 T

Laba BNC semester I 2026 sebesar Rp294,85 miliar naik 6,81 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya. Angka ini akan digunakan untuk menutup defisit yang saat ini masih Rp1,59 triliun. BNC menargetkan defisit tersebut bisa diselesaikan sepenuhnya tahun 2027 berkat run rate laba yang konsisten.
Defisit ini berasal dari berbagai alokasi operasional dan ekspansi. Dengan laba semester ini, bank mampu menunjukkan fundamental yang kuat meski masih ada kekurangan modal. Konsistensi laba ini menjadi sinyal positif bagi investor jangka panjang.
Opsi Aksi Korporasi untuk Capai Target Modal
BNC punya beberapa pilihan untuk menambah modal inti. Salah satunya adalah penawaran saham tambahan yang bisa dilakukan kepada pemegang saham pengendali. Selain itu, bank juga bisa memanfaatkan program obligasi subordinasi yang umum di industri perbankan.
Opsi ketiga adalah pembelian aset atau penggabungan dengan bank lain, meski ini memerlukan persetujuan OJK. Semua pilihan harus selaras dengan regulasi yang akan keluar. BNC sedang memetakan skenario agar target Rp6 triliun bisa tercapai sebelum batas waktu yang ditentukan.
Aset Total dan Dana Pihak Ketiga yang Kuat
Aset total BNC per akhir Juni 2026 mencapai Rp17,45 triliun. Dana pihak ketiga (DPK) juga naik menjadi Rp12,30 triliun. Angka ini menunjukkan kepercayaan masyarakat terhadap bank yang kini sudah berstatus KBMI I.
NII atau net interest income mencapai Rp1,11 triliun sementara fee income Rp59,66 miliar. Kedua sumber pendapatan ini naik 6,77 persen tahun ke tahun. Pertumbuhan ini didorong oleh ekspansi kredit dan layanan digital yang semakin merata.
Pertumbuhan Dana Tabungan yang Stabil
Dana tabungan BNC tumbuh 2,10 persen menjadi Rp3,39 triliun. Angka ini mencerminkan popularitas produk tabungan BNC di kalangan UMKM dan masyarakat menengah. Dengan tabungan yang stabil, bank bisa menurunkan biaya dana dan meningkatkan profitabilitas.
Strategi pemasaran yang fokus pada kemudahan akses melalui aplikasi mobile juga berkontribusi. Masyarakat lebih memilih bank dengan layanan digital yang cepat dan aman. Hal ini sejalan dengan visi BNC untuk menjadi bank digital nasional kelas KBMI II.
| Indikator Keuangan | Nilai (per 30 Juni 2026) | Perubahan YoY |
|---|---|---|
| Modal Inti | Rp4,09 triliun | , |
| Aset Total | Rp17,45 triliun | Naik |
| DPK | Rp12,30 triliun | Naik |
| Laba Bersih | Rp294,85 miliar | +6,81% |
| NII | Rp1,11 triliun | Naik 6,77% |
| Fee Income | Rp59,66 miliar | Naik 6,77% |
Manfaat Naik ke KBMI II bagi BNC
Status KBMI II akan memberikan kepercayaan lebih tinggi dari regulator dan masyarakat. Bank bisa menawarkan produk kredit dengan suku bunga lebih kompetitif. Pelanggan usaha mikro dan kecil akan lebih mudah mengakses pembiayaan yang lebih besar.
Persaingan dengan bank besar seperti BRI dan BCA akan menjadi lebih sehat. BNC bisa berkontribusi lebih besar dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan modal Rp6 triliun, bank siap mendukung proyek strategis dan program pemerintah.







