Kantong hujan lokal masih bisa terbentuk di 12 provinsi pada Minggu, 19 Juli 2026, meskipun musim kemarau sudah mencakup sebagian besar Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjuk aktivitas MJO serta gelombang Kelvin dan Rossby ekuatorial sebagai pendorong utama awan di zona-zona itu.
Hasil pemantauan Optimaise News menunjukkan daftar hari ini lebih ringkas dibanding prediksi Sabtu (18/7) yang mencakup 15 daerah. BMKG memperingatkan potensi hujan lebat hingga cuaca ekstrem tetap perlu diwaspadai, berikut risiko angin kencang di delapan provinsi lain.
Mekanisme atmosfer yang memicu hujan di tengah kemarau meluas
Fenomena global secara umum cenderung menekan pembentukan awan hujan di Nusantara. Namun pola spasial MJO diprakirakan aktif di Riau, Kepulauan Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara sehingga peluang basah di koridor itu meningkat.
Gelombang Kelvin dan Rossby ekuatorial juga aktif di lintasan Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Gorontalo, Sulawesi Utara, Maluku Utara, serta Samudra Pasifik utara Papua. Kombinasi pola itu memperkuat konveksi lokal.
“Didukung dengan potensi pembentukan belokan angin dan konvergensi, serta suhu muka laut yang relatif hangat, potensi pembentukan awan hujan di sebagian wilayah Indonesia masih ada,” ujar BMKG.
Rincian 12 daerah rawan hujan lebat pada 19 Juli 2026

Prakiraan untuk Minggu ini mencakup enam wilayah di Sumatra, tiga di Kalimantan, dua di Sulawesi, dan satu di Papua. Dibanding seruan waspada hujan lebat Sabtu ini yang lebih panjang, cakupan Minggu menyusut menjadi 12 provinsi.
Di Sumatra, zona rawan meliputi Bengkulu, Sumatra Selatan, Jambi, Kepulauan Riau, Riau, dan Aceh. Tiga provinsi Kalimantan yang masuk daftar adalah Kalimantan Utara, Kalimantan Tengah, serta Kalimantan Barat.
Di kawasan timur, Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Tengah ikut diwaspadai. Papua Pegunungan melengkapi peta 12 daerah yang berpeluang diguyur hujan intens.
Provinsi yang juga waspada angin kencang

Selain hujan, BMKG mencantumkan delapan provinsi dengan potensi angin kencang pada periode yang sama. Daftarnya berangkat dari ujung barat hingga timur archipelago.
Banten menjadi satu-satunya perwakilan di Jawa. Di wilayah timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Gorontalo, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat, dan Nusa Tenggara Timur ikut masuk peta kewaspadaan angin.
Proyeksi curah hujan sepekan ke depan menurut BMKG
Secara umum, cuaca Indonesia dalam sepekan ke depan condong basah rendah. Dasarian ketiga Juli 2026 diprakirakan membawa curah hujan rendah sekitar 76,54 persen wilayah, menengah 23,36 persen, dan kategori tinggi hanya 0,09 persen.
“Curah hujan rendah diprakirakan meliputi sebagian besar Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, serta sebagian Papua,” kata BMKG lewat rilis di situs resmi yang dirujuk Sabtu (18/7).
Artinya, guyuran intens yang muncul bersifat lokal dan tidak mengubah peta kemarau yang meluas di mayoritas pulau besar. Pantauan sepekan ini menjadi acuan warga merencanakan aktivitas luar ruangan.
Saran kewaspadaan bagi warga di zona berisiko
Warga di 12 provinsi rawan disarankan memantau pembaruan prakiraan harian BMKG dan menghindari genangan saat hujan deras. Pengendara perlu ekstra hati-hati di ruas licin atau rawan longsor.
Tim redaksi Optimaise News mengingatkan angin kencang di delapan provinsi lain dapat menjatuhkan pohon atau papan reklame. Siapkan saluran air dan amankan benda di luar ruangan bila peringatan ditingkatkan.
FAQ
Berapa wilayah berisiko hujan lebat pada 19 Juli 2026?
BMKG memprakirakan 12 provinsi, menurun dari 15 daerah yang diwaspadai sehari sebelumnya.
Apa yang memicu hujan di tengah musim kemarau?
Aktivitas spasial MJO di sejumlah titik Sumatra-Kalimantan plus gelombang Kelvin dan Rossby ekuatorial, didukung belokan angin dan suhu laut yang relatif hangat.
Wilayah mana yang waspada angin kencang?
Delapan provinsi: Banten, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Gorontalo, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat, dan Nusa Tenggara Timur.
Bagaimana sebaran curah hujan dasarian ketiga Juli 2026?
Sekitar 76,54 persen wilayah berpeluang curah rendah, 23,36 persen menengah, dan hanya 0,09 persen kategori tinggi.







