Slaven Bilic memulai periode keduanya di bangku pelatih Timnas Kroasia dengan ujian yang tak ringan. Ia langsung dihadapkan pada dilema seputar Luka Modric: apakah pujian tinggi dan ikatan lama cukup menahan sang kapten dari rencana pensiun internasional di Oktober, atau skuad Vatreni memang harus memulai regenerasi tanpa ikonnya.
Inti artikel
- Slaven Bilic memulai periode keduanya di bangku pelatih Timnas Kroasia dengan ujian yang tak ringan
- Keputusan itu akan menentukan wajah tim di awal era baru
- Bilic ditunjuk menggantikan Zlatko Dalic setelah Kroasia tersingkir di babak 32 besar Piala Dunia 2026
Keputusan itu akan menentukan wajah tim di awal era baru. Bilic ditunjuk menggantikan Zlatko Dalic setelah Kroasia tersingkir di babak 32 besar Piala Dunia 2026. Sekarang ia harus menimbang warisan dua dekade Modric sambil merancang masa depan.
Penunjukan Bilic Usai Kroasia Tersingkir Piala Dunia 2026
Federasi sepak bola Kroasia menunjuk kembali Bilic tidak lama setelah kegagalan di turnamen dunia. Periode pertamanya berlangsung 2006 sampai 2012. Kini pelatih berusia 57 tahun itu kembali memegang kendali dengan harapan membawa stabilitas.
Timeline ringkasnya jelas. Penunjukan terjadi sekitar Juli, lalu perhatian langsung beralih ke laga UEFA Nations League pada Oktober. Modal utamanya adalah hubungan lama dengan sejumlah pemain senior, termasuk Modric yang pernah bekerja di bawahnya.
Bilic tidak datang dengan janji muluk. Ia memahami bahwa regenerasi sudah mendesak setelah penampilan di Piala Dunia 2026 dinilai kurang memuaskan. Namun kehadiran ikon seperti Modric masih menjadi pertanyaan terbuka di ruang ganti.
Rencana Pensiun Modric dan Laga Penutup di Split

Luka Modric dikabarkan sudah memutuskan mundur dari sepak bola internasional pada awal Oktober. Pertandingan Kroasia melawan Spanyol di Split tanggal 6 Oktober disebut-sebut sebagai penutup karier internasionalnya.
Laporan dari beberapa media menyebutkan ia mungkin menunda keputusan itu karena kedatangan Bilic. Ada spekulasi soal pembicaraan yang sudah berlangsung berbulan-bulan. Di sisi lain, sumber yang lebih tegas menyatakan keputusan pensiun sudah final agar ia bisa fokus penuh pada perpanjangan kontrak di AC Milan.
Sintesis dari dua narasi itu memberi gambaran status terkini yang masih dinamis. Pembaca tidak perlu bingung memilih satu versi. Yang pasti, laga di Split sudah diposisikan sebagai momen emosional potensial bagi sang legenda.
Pujian Bilic: Bintang Ballon d’Or yang Tetap Membumi

Bilic tidak menyembunyikan kekagumannya. Ia menyebut Modric sebagai bintang global yang unik. Pemenang Ballon d’Or itu tetap rendah hati, normal, dan membumi di luar lapangan.
Sebagai pelatih sekaligus teman lama, Bilic ingin berbicara langsung. Ia berharap bisa meyakinkan Modric untuk menambah satu babak lagi. Namun sikapnya juga eksplisit: ia merelakan keputusan final sang pemain.
Penekanan pada karakter itu penting. Banyak bintang besar kehilangan kesederhanaan setelah meraih penghargaan tertinggi. Modric justru menjaga sikap yang sama sejak awal karier internasionalnya. Bagi Bilic, itu menjadikan dia panutan yang sulit digantikan.
20 Tahun, 200 Caps: Warisan Modric di Skuad Vatreni
Dalam dua dekade mengabdi, Modric mencatat lebih dari 200 penampilan untuk Kroasia. Ia menyumbang 29 gol dan 32 assist. Angka itu menempatkannya sebagai salah satu pemain paling produktif sekaligus setia dalam sejarah tim nasional.
Puncaknya terjadi di Piala Dunia 2018. Modric menjadi otak serangan saat Kroasia melaju sampai final. Performa itu mengukuhkan statusnya sebagai ikon generasi. Tidak banyak gelandang yang mampu menjaga level tinggi selama 20 tahun penuh.
Warisan statistik dan kepemimpinan di lapangan sulit diukur hanya dengan angka. Ia menjadi jembatan antara era keemasan dan generasi berikutnya. Skuad Vatreni selama ini selalu punya titik acuan saat situasi sulit muncul di lapangan.
Apa Artinya Kehilangan Ikon bagi Regenerasi Kroasia
Tanpa Modric, Kroasia kehilangan ikon, panutan, dan pemain paling berpengalaman di skuad. Bilic menerima kenyataan itu sebagai bagian dari proses regenerasi yang tak terelakkan. Dampaknya langsung terasa pada identitas tim di awal kepemimpinannya.
Pemain muda harus naik level lebih cepat. Kekosongan 200 caps berarti hilangnya ketenangan di tengah lapangan dan kemampuan membaca permainan di momen krusial. Bilic perlu membangun struktur baru tanpa mengandalkan satu nama besar.
Era kedua ini akan diuji cepat. Dari penunjukan Juli hingga laga potensial perpisahan 6 Oktober di Split, rentang waktunya pendek. Bagaimana Bilic mengelola transisi itu akan menentukan apakah regenerasi berjalan mulus atau justru goyah di awal.
Keputusan akhir tetap di tangan Modric. Bilic sudah menyampaikan pujian dan kerelaannya. Sekarang skuad Vatreni menunggu apakah ikon Ballon d’Or itu masih mau menambah babak, atau benar-benar menutup buku internasionalnya di depan pendukung sendiri di Split.







