Saham Bank Central Asia (BBCA) ditutup di Rp6.500 pada Rabu 22 Juli 2026. Harga itu turun 0,38 persen dengan volume 112,18 juta saham senilai Rp724,47 miliar.
Inti artikel
- Saham Bank Central Asia (BBCA) ditutup di Rp6.500 pada Rabu 22 Juli 2026
- Harga itu turun 0,38 persen dengan volume 112,18 juta saham senilai Rp724,47 miliar
- Meski sesi terakhir tipis merah, asing tetap mencatat net buy Rp17,94 miliar
Meski sesi terakhir tipis merah, asing tetap mencatat net buy Rp17,94 miliar. Pola cicilan harian yang sangat tipis berlanjut setelah lonjakan Jumat lalu. Sepekan BBCA justru naik 6,12 persen didukung total net buy asing Rp934,82 miliar. Optimaise News merangkum data arus asing, kinerja kuartal I, dan target analis sebagai satu gambaran utuh.
Arus Asing: Tipis Harian, Tebal dalam Sepekan
Asing tidak berhenti membeli BBCA meski porsi harian sangat kecil. Setelah net buy Rp698,29 miliar pada Jumat 17 Juli 2026, tiga sesi bursa berikutnya hanya di bawah Rp20 miliar per hari.
Sesi Rabu hanya Rp17,94 miliar. Namun total sepekan mencapai Rp934,82 miliar. Angka itu menopang kenaikan harga 6,12 persen dalam lima hari perdagangan.
Timeline singkat ini memperlihatkan strategi cicilan. Lonjakan besar disusul pembelian bertahap, bukan aksi jual besar-besaran. Sintesis pola harian versus sepekan menjadi pembeda utama data terkini.
Ringkasan arus asing BBCA dapat dilihat di tabel berikut.
| Periode | Net Buy Asing | Keterangan |
|---|---|---|
| Jumat 17 Juli 2026 | Rp698,29 miliar | Lonjakan puncak |
| Tiga hari bursa terakhir | Di bawah Rp20 miliar per hari | Cicilan tipis |
| Rabu 22 Juli 2026 | Rp17,94 miliar | Sesi penutupan |
| Sepekan terakhir | Rp934,82 miliar | Total akumulasi |
Kinerja Kuartal I: Laba Tumbuh, NIM Tertekan

Laba bersih BCA kuartal I 2026 mencapai Rp14,7 triliun. Angka itu tumbuh 3,8 persen baik year on year maupun quarter on quarter.
Net interest margin atau NIM berada di 5,4 persen. Posisi ini menunjukkan tekanan biaya dana dan suku bunga. Cost of credit atau CoC tercatat 0,6 persen sebagai sikap hati-hati manajemen.
Pertumbuhan laba non bunga turut menopang hasil kuartal. Data fundamental ini menjadi landasan valuasi analis ke depan.
Kredit Melambat, CASA dan Kualitas Aset Terkendali

Portofolio kredit BCA menyentuh Rp993,8 triliun. Pertumbuhan 5,6 persen year on year terbilang melambat dibanding periode sebelumnya.
Dana murah CASA justru tumbuh lebih kencang. CASA mencapai Rp1.089 triliun, naik 11,2 persen year on year. Rasio ini membantu menjaga biaya dana tetap terkendali.
Kualitas aset masih solid. Gross NPL di 1,8 persen, loan at risk atau LAR 5,1 persen, dan CoC 0,6 persen. Indikator tersebut menandakan pengelolaan risiko yang tetap waspada.
Rekomendasi Beli dan Target Harga Rp8.075
Analis Kiwoom Securities memberi rekomendasi beli untuk BBCA. Target harga 12 bulan ditetapkan di Rp8.075 per saham.
Valuasi memakai price to book value atau P/BV 3,3 kali. Metode discounted dividend model juga digabung dalam perhitungan target.
Dari penutupan Rp6.500, ruang kenaikan ke target sekitar 24 persen. Rekomendasi ini mempertimbangkan fundamental kuartal I yang masih mendukung.
Risiko Utama yang Diwaspadai Analis
Tekanan NIM bisa berlanjut jika biaya dana naik lebih cepat. Perlambatan pertumbuhan kredit juga menjadi sorotan utama.
Kenaikan CoC meski masih rendah menandakan sikap waspada terhadap kualitas aset. Investor perlu memantau data bulanan kredit dan NPL ke depan.
Sentimen global dan pergerakan suku bunga acuan bisa memengaruhi arus modal asing. Data sepekan terakhir masih menunjukkan dukungan asing yang konsisten.
Tanya Jawab: Saham BBCA Turun Terus, Cicil atau Skip?
Kenapa Saham BBCA Turun Terus?
Penurunan sesi Rabu hanya 0,38 persen ke Rp6.500. Secara sepekan BBCA justru naik 6,12 persen. Pertanyaan Kenapa Saham BBCA Turun Terus? sering muncul saat koreksi harian tipis, padahal akumulasi asing sepekan tetap tebal.
Saham BBCA Turun Terus, Cicil atau Skip? Dalam kondisi saat ini apa langkah yang masuk akal?
Dengan net buy asing sepekan Rp934,82 miliar dan target Kiwoom Rp8.075, ruang akumulasi masih terbuka. Fundamental kuartal I solid asalkan risiko NIM dan kredit dipantau. Optimaise News menekankan penyesuaian dengan profil risiko masing-masing investor.







