Data Next Policy 2024 mencatat sekitar 2,41 juta pekerja transport digital di Indonesia. Lebih dari 75 persen di antaranya bergaji di bawah Rp3 juta per bulan, angka yang mayoritas berpenghasilan rendah dan sulit menopang kebutuhan dasar jangka panjang.
Inti artikel
- Data Next Policy 2024 mencatat sekitar 2,41 juta pekerja transport digital di Indonesia
- Ronny P Sasmita menekankan pergeseran Gen Z ke sektor gig dan informal sebagai constraint-driven choice
- Bukan pure choice yang murni didorong fleksibilitas atau gaya hidup digital
Dua ekonom, Ronny P Sasmita dari ISEAI dan Syafruddin Karimi, mengaitkan data ini dengan peringatan jebakan produktivitas serta gagalnya jalur kelas menengah baru. Optimaise News merangkai peta risiko berlapis dari tren Gen Z yang bergeser ke gig dan informal sebagai katup pengaman saat serapan formal terbatas.
Tekanan Pasar, Bukan Sekadar Pilihan Fleksibel
Ronny P Sasmita menekankan pergeseran Gen Z ke sektor gig dan informal sebagai constraint-driven choice. Bukan pure choice yang murni didorong fleksibilitas atau gaya hidup digital.
Kurir, ojol, freelancer, dan content creator menjadi penopang saat lowongan formal sulit digapai. Tekanan pasar kerja memaksa generasi ini masuk ke ruang yang tampak mudah diakses tapi minim kepastian.
Sisi positifnya, gig memperlancar logistik UMKM, layanan antar, dan konsumsi digital. Trade-off ini harus dikelola agar tidak berbalik jadi beban permanen.
Jebakan Produktivitas Rendah dan Daya Beli yang Terkikis

Dominasi pekerjaan gig berisiko menciptakan stagnasi produktivitas. Nilai tambah rendah dan skill yang jarang naik membuat pekerja terjebak di level yang sama lama.
Mirip bahaya merokok yang merusak perlahan tanpa disadari, risiko ini mengikis daya beli rumah tangga yang jadi penopang ekonomi nasional. Pendapatan tidak stabil memperlemah kemampuan belanja rutin.
Ronny mengingatkan ancaman low productivity trap, erosi basis pajak, dan absennya jaminan sosial formal. Syafruddin Karimi menambahkan fenomena ini menghambat terbentuknya kelas menengah baru yang kokoh.
Angka 2,41 Juta: Mayoritas Sulit Tabungan hingga KPR

Angka 2,41 juta pekerja transport digital dari Next Policy 2024 memperlihatkan realitas keras. Lebih dari 75 persen gaji di bawah Rp3 juta per bulan sulit menopang tabungan, KPR, pensiun, atau investasi pendidikan anak.
Bagi pembaca muda Gen Z, ini artinya kesulitan merencanakan masa depan. Cicilan rumah atau dana pensiun jadi mimpi yang menjauh, sementara biaya hidup terus naik.
Optimaise News melihat data gaji itu harus dibaca sebagai konteks praktis, bukan sekadar statistik. Tanpa rezim perlindungan dan standar produktivitas konkret, jebakan ini semakin dalam.
Generasi Besar Jumlahnya, Rapuh Ekonominya
Gen Z merupakan generasi besar secara jumlah. Namun kerapuhan ekonomi mereka tampak jelas ketika mayoritas tertahan di pekerjaan berpenghasilan rendah dan tanpa jaring pengaman.
Sintesis peringatan Ronny dan Syafruddin membentuk peta risiko berlapis. Mulai dari individu Gen Z yang sulit naik kelas, ke daya beli rumah tangga yang tergerus, hingga pelemahan kelas menengah dan basis pajak negara.
Seperti bahaya vape yang sering disepelekan karena tampak modern, risiko ini tampak fleksibel di permukaan tapi merusak fondasi jangka panjang. Tanpa intervensi, rapuhnya ini bisa menular ke makroekonomi.
Gig Harus Jadi Jembatan, Bukan Ruang Tunggu Permanen
Solusi operasional yang ditekankan adalah menjadikan gig sebagai jembatan produktivitas, bukan ruang tunggu permanen. Pemerintah didesak membangun perlindungan kerja platform, bukan hanya label UMKM.
Agenda kebijakan perlu checklist risiko berlapis dari mikro ke makro. Standar skill, jaminan sosial, dan jalur naik ke formal harus dipetakan jelas agar Gen Z tidak terjebak selamanya.
Tanpa langkah itu, fenomena ini terus hambat pembentukan kelas menengah baru yang diharapkan menjadi motor pertumbuhan. Gig tetap berguna selama dikelola sebagai penopang sementara menuju pekerjaan lebih produktif.







