Jakarta, Optimaise News – Kiai Masduki Baidlowi memperingatkan bahwa AI Agent dapat menghancurkan sistem sanad ilmu dan hubungan guru-murid sebagai fondasi keislaman Nusantara di era digital. Workshop Komisi Infokomdigi MUI bersama Baznas RI digelar di Aula Buya Hamka, Jakarta, pada 29 Juli 2026, untuk mengantisipasi ancaman tersebut. Acara ini menawarkan 40 persen teori dan 60 persen praktik teknis, termasuk prompt engineering serta generative engine optimization.
Inti artikel
- Acara ini menawarkan 40 persen teori dan 60 persen praktik teknis, termasuk prompt engineering serta generative engine optimization
- Komisi Infokomdigi MUI bersama Baznas RI menggelar workshop di Aula Buya Hamka Jakarta pada 29 Juli 2026
- Kiai Masduki Baidlowi buka acara tersebut dengan menekankan perlindungan tradisi keagamaan Nusantara
Workshop MUI Gelar Amplifikasi Literasi Keislaman Digital Era AI
Komisi Infokomdigi MUI bersama Baznas RI menggelar workshop di Aula Buya Hamka Jakarta pada 29 Juli 2026. Kiai Masduki Baidlowi buka acara tersebut dengan menekankan perlindungan tradisi keagamaan Nusantara. Optimaise News mencatat acara ini sebagai langkah awal merawat peradaban Indonesia Emas 2045 menurut rekomendasi KUII VIII.
Acara melibatkan pemangku ulama dan pakar teknologi untuk membahas dampak AI terhadap pendidikan agama. Peserta mendapatkan pemahaman awal tentang bagaimana teknologi dapat memperkuat atau melemahkan sanad ilmu. Workshop ini juga menyasar generasi muda yang kini lebih terbuka dengan gadget dan startup digital.
AI Agent Evolusi Ancaman terhadap Pendidikan Agama Nusantara
AI berevolusi menjadi AI Agent yang mampu merencanakan, mendiskusikan, dan mengeksekusi keputusan secara rinci. Ancaman ini muncul karena generasi muda semakin pasif terhadap algoritma digital yang menggantikan proses belajar tradisional. Sistem sanad ilmu dan tradisi belajar guru-murid berisiko dihancurkan jika pemahaman agama hanya berupa ekspresi ego pribadi.
Agama dipahami generasi muda sebagai kenyamanan pribadi daripada pencarian hidayah bersama guru Rabbani. AI Agent bisa menyajikan jawaban tanpa cross-check sehingga mengubah karakter dakwah menjadi sesuatu yang individualis. Konteks lokal Indonesia menunjukkan bagaimana MUI siapkan generasi muda untuk taklukkan teknologi sambil merawat tradisi keislaman Nusantara yang kaya akan sanad ilmu.
Peran ulama sebagai verifikasi cross-check sangat penting agar jawaban AI tetap sahih dan wasathiyah. Workshop ini mengajak peserta untuk menerapkan teknologi secara bijak tanpa mengorbankan nilai keislaman tradisional.
Fenomena Echo Chamber dari Penggunaan AI Avatar di Kalangan Muda

Fenomena echo chamber terjadi saat anak muda bertanya ke AI dan menerima jawaban sesuai selera pribadi tanpa cross-check. AI Avatar yang digunakan oleh generasi muda bisa memperkuat bias dan mengurangi interaksi dengan guru atau sanad ilmu. Hal ini mengubah interaksi beragama menjadi pengulangan pendapat tanpa verifikasi mendalam.
Anak muda cenderung menganggap agama sebagai ekspresi ego dan kenyamanan pribadi. Fenomena ini muncul karena algoritma AI memilih informasi yang sesuai preferensi pengguna. MUI dorong lahirnya Mujahid Digital yang menguasai teknis produksi narasi digital untuk pesan Islam moderat dan wasathiyah.
Strategi praktis workshop menekankan pentingnya peran ulama sebagai penjaga keaslian informasi. Generasi muda diajak untuk selalu memverifikasi jawaban AI dengan referensi sanad ilmu tradisional.
Mujahid Digital Siap Taklukkan Algoritma untuk Dakwah Moderat
MUI dorong lahirnya Mujahid Digital yang menguasai teknis produksi narasi digital untuk pesan Islam moderat dan wasathiyah. Workshop tawarkan 40 persen teori dan 60 persen praktik teknis termasuk prompt engineering serta generative engine optimization. Mujahid Digital siap mengolah algoritma agar pesan keislaman tetap moderat dan berkesan luas.
Keterampilan praktis yang diajarkan meliputi pemahaman algoritma pencarian, pembuatan konten viral yang edukatif, serta integrasi teknologi dengan nilai wasathiyah. Contohnya adalah penggunaan AI untuk menciptakan narasi dakwah yang relevan dengan tantangan zaman tanpa kehilangan akar sanad ilmu. Langkah ini implementasi rekomendasi KUII VIII untuk merawat peradaban Indonesia Emas 2045.
Optimaise News melihat kolaborasi MUI Baznas sebagai bentuk persiapan SDM AI berkapasitas tinggi. Daftar praktis delapan skill Mujahid Digital meliputi prompt engineering, generative engine optimization, content moderation untuk narasi moderat, digital narrative production, cross-check verification, algorithm navigation, wasathiyah communication, serta youth engagement strategy.
Kolaborasi MUI Baznas Bangun SDM AI Berkapasitas Tinggi
Kolaborasi MUI Baznas menjadi langkah strategis untuk membangun sumber daya manusia yang menguasai AI sambil menjaga tradisi keislaman Nusantara. Workshop ini menekankan pentingnya melibatkan ulama dalam setiap tahap pengembangan AI Agent agar tetap selaras dengan prinsip wasathiyah. Konteks lokal Indonesia menunjukkan bagaimana lembaga keagamaan bisa memimpin adaptasi teknologi tanpa kehilangan akar keislaman.
Peserta workshop mendapat pemahaman mendalam tentang bagaimana AI Agent bisa dimanfaatkan untuk dakwah lebih luas melalui konten yang relevan dengan generasi muda. MUI tetap menjadi penjaga agar algoritma tidak menggantikan peran guru dalam pendidikan agama. Langkah ini juga menanggapi tantangan infrastruktur data yang muncul di era AI berkembang pesat.






