Jakarta, Optimaise News – Apple memenuhi kewajiban membayar kompensasi US$150.000 atau sekitar Rp2,6 miliar kepada mantan karyawan Apple Genius yang dipecat setelah berulang kali meminta izin ibadah Yahudi. Kesepakatan damai itu tidak disertai pengakuan kesalahan resmi dari perusahaan.
Inti artikel
- Kesepakatan damai itu tidak disertai pengakuan kesalahan resmi dari perusahaan
- Pembayaran wajib lunas dalam 30 hari
- Karyawan itu sudah 16 tahun mengabdi sebagai Apple Genius dengan catatan kinerja yang baik
Berdasarkan sumber yang dihimpun Optimaise News, pihak perusahaan tetap berargumen bahwa pemecatan murni karena standar penampilan, sementara gugatan menuding jadwal Sabat yang ditolak sebagai pemicu. Pembayaran wajib lunas dalam 30 hari.
Kronologi ditolak dan puncak pemberhentian karyawan 16 tahun
Karyawan itu sudah 16 tahun mengabdi sebagai Apple Genius dengan catatan kinerja yang baik. Pada 2023 ia memeluk agama Yahudi dan mulai meminta penyesuaian libur dari matahari terbenam Jumat hingga Sabtu malam. Ritual Sabat melarang aktivitas kerja sepanjang jendela waktu itu.
Permohonan izin berulang kali ditolak manajemen. Keluhan soal penampilan baru mengemuka tak lama setelah penolakan itu. Puncaknya terjadi setelah ia kembali mengajukan cuti untuk hari raya keagamaan. Tidak lama kemudian ia diberhentikan.
Sumber gugatan dari EEOC hingga penyelesaian tanpa pengakuan kesalahan
Komisi Kesempatan Kerja yang Setara AS atau EEOC membawa perkara ke pengadilan pada September 2025. Laporan yang dirangkum Optimaise News menyebut kasus berpusat di wilayah Northern Virginia, terkait staf toko Apple.
Penyelesaian menempuh jalur damai tanpa persidangan panjang. Apple tidak mengakui kesalahan secara resmi. Dokumen yang dikutip media teknologi AS juga mencatat kewajiban pelatihan pencegahan diskriminasi agama bagi karyawan.
Rincian kompensasi dan komitmen pelatihan pencegahan diskriminasi
Dari total US$150.000, sebesar US$80.000 dialokasikan sebagai gaji tertunggak yang dikenakan pajak. Sisanya US$70.000 mencakup ganti rugi nonmateriil beserta bunga.
Seluruh pembayaran harus selesai dalam 30 hari sejak kesepakatan. Pelatihan internal soal pencegahan diskriminasi agama menjadi bagian paket, terpisah dari soal pengakuan bersalah yang memang tidak ada.
Bagaimana standar grooming menjadi narasi resmi karena klaim agama
Apple berkilah tindakan itu murni karena karyawan tidak memenuhi standar grooming. Pihak mantan karyawan menuding pemecatan dipicu permintaan izin libur untuk Sabat. Urutan waktu di berkas gugatan menempatkan keluhan penampilan setelah izin ibadah ditolak berulang.
Bagi pembaca, pola itu memperlihatkan bagaimana alasan disiplin visual bisa berdiri di samping, atau menumpuk di atas, sengketa akomodasi agama. Perusahaan tetap bisa menutup perkara dengan uang dan pelatihan tanpa mengakui motif diskriminatif.
Dampak perjanjian terhadap kesetaraan hak beragama di perusahaan teknologi
Bagi pekerja, kesimpulan praktisnya sederhana: Apple menyelesaikan perkara tanpa mengaku mendiskriminasi, tetapi tetap membayar gaji tertunggak, ganti rugi, dan menggelar pelatihan. Itu sinyal bahwa biaya hukum dan reputasi bisa lebih mahal daripada menyesuaikan jadwal ibadah.
Bagi perusahaan teknologi di luar Amerika, termasuk yang merekrut atau bermitra di Indonesia, pelajaran utamanya adalah menghormati hak beribadah sejak izin pertama, bukan menunggu EEOC. Setiap penolakan akomodasi agama di yurisdiksi AS bisa berujung laporan ke komisi ketenagakerjaan, meski kasus ini sendiri terjadi di toko Amerika, bukan di etalase iBox Official Store – Apple Authorized Reseller Indonesia.







