Andi Samad (62) diminta awak memperbaiki pompa diesel yang macet di KM Nurul Salsa. Ia sempat menghidupkan mesin itu sebelum air laut membanjiri lambung. Peristiwa terjadi sekitar pukul 05.00 WITA Rabu 15 Juli di perairan Selayar.
Inti artikel
- Andi Samad (62) diminta awak memperbaiki pompa diesel yang macet di KM Nurul Salsa
- Ia sempat menghidupkan mesin itu sebelum air laut membanjiri lambung
- Peristiwa terjadi sekitar pukul 05.00 WITA Rabu 15 Juli di perairan Selayar
Wawancara dilakukan di RSUD KH Hayyung Selayar pada 22 Juli. Di balik musibah tenggelamnya KM Nurul Salsa di barat Pulau Polassi, sudut teknis Andi berbeda dari drama bertahan hidup yang ramai. Bersama istri Sitti Amang (55) ia bertahan empat hari hingga dievakuasi tim SAR. Setidaknya lima korban selamat dioperasikan di perairan itu.
Gelombang Lebih dari Tiga Meter Padamkan Mesin Utama
Gelombang lebih dari tiga meter menerjang KM Nurul Salsa. Kapal sedang berlayar dari Jampea menuju Pelabuhan Benteng Selayar. Mesin utama padam mendadak sekitar pukul 05.00 WITA.
Awak segera menurunkan jangkar. Kapal berhenti di tengah ombak besar. Air laut terus masuk lambung tanpa henti. Stabilitas kapal mulai terganggu parah.
Data awal menyebut kapal mengangkut hingga 70 penumpang. Puluhan di antaranya masih hilang pada laporan pertama. Situasi kacau karena genangan naik cepat di lambung.
Pompa Alkon Macet, Awak Minta Andi Samad Turun Tangan

Pompa air bermesin diesel atau alkon justru macet. Alat penguras air itu tidak berfungsi sama sekali. Awak kapal meminta Andi Samad turun tangan. Mereka tahu dia ahli di bidang mesin.
Andi merespons permintaan itu di tengah kondisi gawat. Ia bersama istri sudah merasakan goyangan hebat. Perbaikan dilakukan secepat mungkin. Harapan agar air bisa dikuras muncul sesaat.
Mesin Hidup Sebentar Lalu Mati Total karena Air Terlalu Banyak

Andi berhasil menghidupkan mesin pompa alkon. Mesin hidup sebentar dan mulai bekerja. Air sedikit demi sedikit tersedot keluar.
Genangan di lambung sudah terlalu banyak. Mesin tidak mampu menahan volume air itu. Mati total terjadi tak lama kemudian. Opsi penyelamatan dari dalam kapal habis.
Kapal semakin miring. Penumpang mulai panik. Andi menyadari saatnya bersiap keluar dari kapal.
Siapkan Gabus Rakit Darurat, Tenangkan Istri Sebelum Lompat
Andi tenangkan Sitti Amang yang ketakutan. Ia siapkan gabus jadi rakit darurat. Keduanya menunda lompat dulu. Harapan ada kapal melintas masih ada.
Harapan itu pupus. Mereka memutuskan lompat ke laut bersama penumpang lain. Gabus menjadi sandaran hidup. Kisah pelukan suami untuk menjaga kehangatan istri selama empat hari tanpa makan dan minum sudah tersebar luas. Optimaise News menyoroti bagaimana Andi memadukan keahlian mesin dengan persiapan rakit itu.
Sembilan orang awalnya bertahan di gabus. Empat meninggal di hadapan mereka. Lima termasuk Andi dan istri berhasil diselamatkan kemudian.
Kapal Miring Nyaris Terbalik, Tertimpa Balok Kayu saat Menjauh
Kapal miring ke kiri hingga nyaris terbalik. Andi sudah menjauh saat itu. Ia tertimpa patahan balok kayu. Cedera membuat gerakan di air lebih sulit.
Meski cedera, Andi tetap fokus bertahan. Ia dan istri saling mendukung di atas gabus. Hari keempat tiba evakuasi. Kapal nelayan serta KM Harapan Kita bersama unsur SAR gabungan menjemput mereka di perairan Selayar.
KM Nurul Salsa Karam di Selayar menyisakan duka panjang. Banyak korban masih dicari. Andi kini dirawat dan menceritakan kronologi teknis yang jarang diungkap media lain.
Tanya Jawab Seputar Perjuangan Andi Samad
Mengapa awak meminta Andi Samad memperbaiki pompa?
Andi Samad dikenal ahli mesin. Saat pompa alkon macet setelah mesin utama padam, awak meminta bantuannya agar air di lambung bisa dikuras.
Apa yang dilakukan Andi sebelum melompat ke laut?
Ia menenangkan istri Sitti Amang. Kemudian menyiapkan gabus sebagai rakit darurat. Mereka menunda lompat sambil berharap kapal melintas dulu.
Bagaimana cedera balok kayu terjadi?
Saat kapal miring ke kiri nyaris terbalik, Andi tertimpa patahan balok kayu ketika menjauh. Cedera itu dialami di air tapi ia tetap bertahan hingga evakuasi hari keempat.







