Jakarta, Optimaise News – Keputusan anak bungsu menjadi titik penentu pemakaman Diding Boneng. Jenazah aktor senior yang akrab dipanggil Opa Diding digabung dalam satu liang lahat bersama mendiang istri di TPU Menteng Pulo, Jakarta Selatan, Senin 3 Agustus 2026. Kronologi lengkap penurunan napas di rumah Matraman usai pulang dari unit stroke Tarakan serta kehadiran rekan seni melengkapi suasana duka yang khidmat.
Inti artikel
- Keputusan anak bungsu menjadi titik penentu pemakaman Diding Boneng
- Prosesi sore itu menyatukan keluarga, adik, cucu, dan sahabat seni
- Semua versi mengerucut pada satu timeline visual: peti jenazah disambut isak tangis sebelum tabur bunga bergiliran
Prosesi sore itu menyatukan keluarga, adik, cucu, dan sahabat seni. Ambulans tiba di area pemakaman sekitar pukul 16.15 WIB, meski laporan lain menyebut iring-iringan muncul lebih awal pukul 15.30 WIB atau 16.05 WIB. Semua versi mengerucut pada satu timeline visual: peti jenazah disambut isak tangis sebelum tabur bunga bergiliran.
Ambulans Tiba Sore, Putri dan Cucu Bergiliran Tabur Bunga
Ambulans yang membawa jenazah Diding Boneng tiba sekitar pukul 16.15 WIB di TPU Menteng Pulo. Rombongan keluarga dan sahabat mengiringi peti menuju liang lahat di bawah langit sore yang tenang. Suasana penuh duka, dengan isak tangis adik, anak, hingga cucu yang menyambut kedatangan.
Anak-anak dan cucu bergiliran menabur bunga di atas pusara. Salah satu putri terus menangis usai menabur bunga. Putra Wira sempat mengonfirmasi bahwa pemakaman digelar habis Ashar. Akun Sanggar Perkasa juga mengunggah belasungkawa atas berpulangnya Opa Diding serta ilmu yang dititipkannya kepada generasi muda seni.
Variasi jam tiba antar laporan digabung jadi gambaran utuh prosesi. Ada yang mencatat iring-iringan muncul pukul 15.30 WIB, ada yang 16.05 WIB, dan ada yang 16.15 WIB. Perbedaan itu justru memperlihatkan keramaian kerabat yang terus berdatangan hingga petang.
Dari Disangka Maag ke Unit Stroke Tarakan hingga Napas Terakhir Pukul 06.04

Diding Boneng wafat Senin pagi sekitar pukul 06.04 WIB di kediaman Matraman Dalam, Jakarta Pusat. Adik Zainal Arifin menceritakan awalnya gejala disangka maag. Dokter kemudian menyatakan stroke dan menyarankan opname.
Di RS Tarakan, Diding ditempatkan di unit stroke. Pemeriksaan menegaskan asma, hipertensi, dan stroke, bukan maag. Ia dirawat sekitar sepuluh hari, sempat membaik, lalu diperbolehkan pulang. Minggu malam gangguan pernapasan serius kambuh di rumah.
Saat napas terakhir, Diding didampingi anak tertua, adik perempuan bungsu, dan Aryo. Usianya 76 tahun. Ia dikenal lewat peran di Rumah Masa Depan, Warkop DKI, dan Mbah Buyut dalam KKN di Desa Penari. Zainal Arifin menyebut komplikasi jantung, stroke, dan asma. Sang kakak jarang di rumah karena pejuang kesenian.
Permintaan Anak Bungsu: Satu Liang Lahat dengan Mendiang Istri
Dimakamkan satu liang lahat dengan mendiang istri atas permintaan anak bungsu. Adik Zainal Wahyudin menegaskan keputusan itu. Keluarga memilih TPU Menteng Pulo sebagai tempat peristirahatan terakhir.
Pesan Diding agar adik-adik menempati rumah keluarga Matraman dan jangan bertengkar turut diingat. Rumah itu sempat ambruk akhir 2025. Renovasi digelar gotong royong, termasuk bantuan Raffi Ahmad. Konteks renovasi ini memberi makna tambahan pada wasiat agar rumah tetap jadi tempat berkumpul.
Anak-anak enggan berkomentar usai pemakaman. Mereka hanya terisak dan mohon maaf kepada para pelayat. Keputusan satu liang itu menjadi cara keluarga menutup babak panjang kebersamaan orang tua.
Ucapan Ustadz, Zainal, dan Qubil AJ di Tengah Duka Keluarga
Ustadz memimpin doa dan menyampaikan maaf keluarga. Ia bersaksi bahwa Diding dikenal baik di RW Matraman tanpa memandang usia. Zainal Arifin mengulang cerita dampingan saat wafat serta dedikasi seni sang kakak.
Qubil AJ hadir, ikut menyalatkan jenazah, dan mengikuti tahlil. Ia mengenang Diding sebagai sosok tegas berwibawa. Qubil mendoakan ampunan bagi almarhum. Kehadiran rekan seni itu menambah kehangatan di tengah duka.
Sintesis timeline utuh dari semua sumber: rawat Tarakan sepuluh hari, pulang, Minggu malam napas drop, wafat 06.04 di Matraman, tiba TPU antara 15.30-16.15, tabur bunga, satu liang istri, doa ustadz dan Qubil, plus konteks rumah renovasi. Pembaca mendapat gambaran lengkap tanpa harus membuka banyak tab. Diding Boneng meninggalkan jejak seni yang tetap dikenang keluarga dan sahabat.






