AI Sebabkan Lembur 90 Jam Seminggu Alih-alih Janji 4 Hari Kerja

Kisah karyawan tech yang dipaksa lembur 90 jam seminggu karena AI. Dari prediksi empat hari kerja hingga sprint intens di OpenAI dan Meta. Implikasi besar.

Author Image

Dyah

AI Sebabkan Lembur 90 Jam Seminggu Alih-alih Janji 4 Hari Kerja

– Karyawan di perusahaan teknologi terdepan terpaksa bekerja lebih dari 90 jam setiap minggu untuk mencapai target proyek AI. Ini terjadi di OpenAI dan Anthropic selama beberapa minggu sebelum rilis fitur baru. Meta bahkan memaksa karyawan pindah ke tim proyek mendesak dengan hanya dua pilihan yakni mundur atau tetap bekerja tanpa henti.

Inti artikel

  • Karyawan di perusahaan teknologi terdepan terpaksa bekerja lebih dari 90 jam setiap minggu untuk mencapai target proyek AI
  • Ini terjadi di OpenAI dan Anthropic selama beberapa minggu sebelum rilis fitur baru
  • Meta bahkan memaksa karyawan pindah ke tim proyek mendesak dengan hanya dua pilihan yakni mundur atau tetap bekerja tanpa henti

Prediksi empat hari kerja seminggu di masa mendatang melenceng drastis ketika AI yang seharusnya meringankan tugas justru menyerap semua waktu yang dikandungnya. Hasilnya adalah jam kerja yang jauh melampaui 40 jam per minggu standar di Amerika Serikat.

Google Janji Empat Hari Kerja tapi Realita Lembur Berat

Empat tahun lalu direktur rekayasa perangkat lunak Google mengungkapkan harapan AI akan menghadirkan hari kerja empat hari dalam seminggu pada tahun 2025. Namun fakta menunjukkan justru sebaliknya. Karyawan tech yang mengembangkan AI ini harus mengabaikan waktu istirahat meski janji tersebut masih dipandang sebagai target jangka panjang.

Semua itu memaksa para teknisi menghabiskan waktu larut malam hingga akhir pekan tanpa batas. Kadang tim dipaksa berkumpul mendadak dan pengunduran diri jadi opsi yang paling aman untuk mengakhiri tekanan tersebut.

OpenAI dan Anthropic Dorong Uji Coba Empat Hari Kerja

Lebih dari 90 jam dalam tujuh hari menjadi rutinitas yang sering muncul di sprint OpenAI dan Anthropic. Aktivitas ini dilakukan secara intensif menjelang peluncuran fitur atau produk baru yang masih dalam pengembangan.

Tim di balik proyek AI ini melampaui batas 40 jam per minggu dan tetap melanjutkan tanpa jeda yang layak. Hasilnya kualitas output tetap terjaga di saat yang sama sehingga perusahaan menganggap strategi ini sebagai investasi untuk kecepatan pengiriman.

Meta Memaksa Karyawan ke Proyek AI Mendesak

Meta memang berupaya mengalihkan sumber daya secara paksa ke tim yang menangani proyek AI yang mendesak. Karyawan tidak punya pilihan selain patuh atau mengundurkan diri dari perusahaan.

Akhir pekan dan malam hari sering menjadi bagian dari jadwal karena jam kerja cenderung tidak berhenti ketika masih ada deadline mendekati. Keadaan ini terus berlanjut selama berminggu-minggu tanpa permintaan istirahat yang dianggap berlebihan.

Mantan Karyawan Google yang Kini Lebih Sehat

Mantan karyawan Google Amin Shali memutuskan keluar dari perusahaan pada bulan Mei tahun lalu setelah merasakan dampak negatif dari budaya yang sangat menekan. Kualitas tidurnya membaik dan kesehatan secara keseluruhan menjadi lebih baik setelah meninggalkan perusahaan.

Shali menyebut ketergantungan berat pada AI di perusahaan teknologi besar justru menciptakan lingkungan kerja yang berlebihan untuk teknisi senior. Penggunaan alat bantu AI seharusnya mempermudah tugas namun justru membuat beban bertambah karena semua tugas harus diselesaikan lebih cepat.

Studi UC Berkeley: AI Lebih Cepat Tapi Jam Lebih Panjang

Tim peneliti dari UC Berkeley memantau sekitar ratusan pekerja teknologi selama delapan bulan berturut-turut. Mereka menemukan AI mempercepat penyelesaian satu tugas namun jumlah tugas yang dihasilkan juga bertambah secara proporsional.

Hasilnya jam kerja harian terasa padat meski secara teoritis AI membantu menghemat waktu. Penghematan waktu yang dihasilkan selalu diserap oleh beban kerja baru yang muncul sehingga produktivitas keseluruhan justru tetap membutuhkan jumlah jam lebih besar daripada sebelum AI diterapkan.

Masih Ada Manfaat AI Meski Jangka Pendek Rumit

Neil Thompson pakar inovasi dari MIT menjelaskan bahwa penghematan waktu dari AI selalu terserap menjadi beban tambahan bagi karyawan. Pekerja yang mengandalkan AI kini harus menyelesaikan lebih banyak tugas kecil sekaligus tugas besar dalam waktu yang sama.

Situasi ini menimbulkan risiko kesehatan jangka panjang dan kelelahan yang parah. Bagi perusahaan besar yang mengandalkan AI untuk tetap kompetitif di pasar global perusahaan harus menemukan cara menyeimbangkan potensi kecepatan dengan kesejahteraan manusia.

FAQ
Bagaimana AI bisa mempercepat tugas sekaligus memperpanjang jam kerja?
AI menangani tugas rutin dengan cepat namun tim baru harus menyelesaikan lebih banyak aktivitas tambahan menggunakan hasil dari alat tersebut sehingga total beban tetap bertambah.
Apa jawaban perusahaan atas proyek sprint 90 jam per minggu?
Perusahaan menganggap sprint ini sebagai investasi penting karena mendorong peluncuran produk baru lebih cepat. Namun pendekatan ini berisiko tinggi terhadap retensi talenta dan kesehatan karyawan.
Apakah prediksi empat hari kerja masih realistis?
Prediksi tersebut masih dipandang sebagai target jangka menengah. Saat ini perusahaan masih bergulat dengan tuntutan tugas yang tidak kunjung berkurang di tengah adopsi AI.
Apa implikasi bagi pekerja UMKM yang mengadopsi AI?
Teknik serupa bisa menguras produktivitas jika tidak ada waktu recovery yang cukup sehingga pertumbuhan bisnis bisa terganggu oleh kelelahan berulang dari tim proyek yang sedang berkembang.
Dyah
Redaktur Hiburan

Dyah adalah redaktur hiburan Optimaise News. Meliput film, selebriti, drama Asia, dan industri hiburan regional. Menyusun berita hiburan berbasis rilis, unggahan resmi, dan konteks industri agar pembaca mendapat ringkasan yang jelas, bukan sekadar copas judul viral.