Banyuwangi, Optimaise News – Safrizal ZA selaku Dirjen Bina Administrasi Kewilayahan Kementerian Dalam Negeri memimpin delegasi Indonesia pada The 9th ASEAN Smart Cities Network Annual Meeting di Banyuwangi, Jawa Timur, 23 Juli 2026. Forum regional itu menempatkan isu pengelolaan sampah berkelanjutan sebagai agenda prioritas yang bersifat strategis bagi anggota ASEAN.
Inti artikel
- Forum regional itu menempatkan isu pengelolaan sampah berkelanjutan sebagai agenda prioritas yang bersifat strategis bagi anggota ASEAN
- Enam pemerintah daerah anggota ASCN Indonesia memaparkan total 18 proyek smart city
- Keenam anggota ASCN dari Indonesia membawa praktik lokal masing-masing ke forum
Enam pemerintah daerah anggota ASCN Indonesia memaparkan total 18 proyek smart city. Langkah tersebut sejalan dengan Gerakan Indonesia ASRI yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto serta upaya mempercepat fasilitas pengolahan sampah menjadi energi dengan pendekatan dari hulu hingga hilir.
Enam Daerah Anggota ASCN Pamerkan 18 Proyek Inovasi
Keenam anggota ASCN dari Indonesia membawa praktik lokal masing-masing ke forum. Mereka mencakup Jakarta, Banyuwangi, Makassar, Sumedang, Semarang, dan Denpasar. Paparan 18 proyek itu menampilkan ragam solusi untuk tantangan urbanisasi di tingkat kota dan kabupaten.
Setiap daerah menonjolkan kekhasan wilayahnya dalam menerapkan konsep kota cerdas. Kolaborasi di dalam pertemuan memungkinkan transfer pengetahuan antar kota ASEAN. Optimaise News mencatat bahwa kesiapan Indonesia terlihat dari keragaman inovasi yang dibawa delegasi daerah.
Banyuwangi sebagai tuan rumah memberi ruang bagi daerah luar pusat untuk menunjukkan kemajuan. Pemilihan lokasi di Jawa Timur memperkuat semangat desentralisasi dalam agenda smart city regional. Proyek yang dibahas meliputi sektor lingkungan sebagai penekanan utama di samping teknologi dan layanan publik.
Presentasi tersebut memberikan gambaran konkret bagaimana pemerintah daerah menjawab tekanan urban. Forum menjadi ajang saling belajar yang menekankan hasil nyata, bukan sekadar wacana. Sinergi antar entitas daerah ini diharapkan menghasilkan model yang dapat direplikasi di kawasan.
Gerakan ASRI Jadi Landasan Agenda Sampah Regional

Gerakan Indonesia ASRI yang berarti Aman, Sehat, Resik, dan Indah dijadikan acuan nasional yang dihubungkan ke forum ASEAN. Program itu digabungkan dengan percepatan pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi. Pendekatan menyeluruh diterapkan mulai dari hulu hingga hilir agar hasilnya komprehensif.
Isu terkini di indonesia seputar limbah perkotaan memperoleh panggung lebih luas melalui pertemuan ini. Dengan menempatkan pengelolaan sampah sebagai fokus, Indonesia mendorong negara tetangga mengadopsi praktik serupa yang selaras target pembangunan berkelanjutan. Langkah itu juga mendukung peralihan menuju ekonomi sirkular di kawasan.
Fasilitas waste-to-energy dipandang mampu mengurangi volume sampah yang berakhir di tempat pemrosesan akhir. Integrasi dengan ASRI memastikan aspek keamanan, kesehatan, kebersihan, dan keindahan lingkungan berjalan bersamaan. Keenam daerah anggota berkesempatan berbagi pengalaman implementasi di tingkat lokal kepada mitra ASEAN.
Penempatan agenda ini membuka peluang kerja sama teknis dan pendanaan ke depan. Delegasi Indonesia tidak hanya menjadi peserta tetapi juga penggerak isu lingkungan di level regional. Hasil forum diharapkan memperkuat komitmen bersama terhadap kota yang lebih bersih dan tangguh.
Kehadiran Pejabat Daerah Teguhkan Komitmen Forum
Pertemuan dihadiri sejumlah pejabat penting daerah. Di antaranya Bupati Banyuwangi dan Bupati Sumedang. Turut hadir Wakil Wali Kota Makassar serta perwakilan pejabat smart city dari Jakarta, Denpasar, dan Semarang yang membawa masukan teknis masing-masing kota.
Keterlibatan langsung kepala daerah memastikan keputusan forum dapat ditindaklanjuti di lapangan. Mereka menyampaikan perkembangan proyek sekaligus tantangan penerapan konsep kota cerdas. Sinergi antara level nasional melalui Kemendagri dan level daerah menjadi penentu keberhasilan implementasi.
Kehadiran pejabat dari berbagai wilayah memperlihatkan dukungan merata terhadap agenda ASCN. Diskusi di Banyuwangi mempertemukan perspektif pusat dan daerah dalam satu meja. Hal itu memperkuat posisi Indonesia sebagai kontributor aktif di jejaring kota cerdas ASEAN.







