Jakarta, Optimaise News – Meski ambruk di awal Agustus, Bitcoin menunjukkan ketahanan di tengah tekanan makro yang melanda pasar kripto. Harga Bitcoin anjlok 3,1% menjadi US$62.896 atau setara Rp1,13 miliar per unit. Kapitalisasi pasar kripto global pun ikut menyusut 2,1% ke US$2,16 triliun. Fenomena ini menjadi sorotan karena Bitcoin selama ini dikenal sebagai aset yang volatil namun memiliki potensi pertumbuhan jangka panjang yang tetap menarik bagi investor global.
Inti artikel
- Meski ambruk di awal Agustus, Bitcoin menunjukkan ketahanan di tengah tekanan makro yang melanda pasar kripto
- Harga Bitcoin anjlok 3,1% menjadi US$62.896 atau setara Rp1,13 miliar per unit
- Kapitalisasi pasar kripto global pun ikut menyusut 2,1% ke US$2,16 triliun
Penyebab Ambruknya Harga Bitcoin
Tekanan makro melanda pasar kripto dan menjadi penyebab utama ambruknya harga Bitcoin. Ekspektasi kenaikan suku bunga Fed oleh bank sentral Amerika Serikat, lonjakan imbal hasil obligasi, koreksi saham sektor AI, serta insiden peretasan dompet hardware Coldcard menjadi faktor-faktor kunci. Analis dari Bitfinex menyatakan bahwa tekanan forced selling berkurang berkat likuidasi harian yang rendah, rata-rata di bawah US$400 juta. Investor yang menyimpan Bitcoin di dompet hardware seperti Coldcard harus mewaspadai keamanan karena insiden ini bisa memengaruhi kepercayaan pasar. Meski demikian, Bitcoin masih mencatat kenaikan 7,5% sepanjang Juli meski menghadapi sentimen negatif secara keseluruhan. Investor perlu waspada terhadap data on-chain karena whale activity juga dilaporkan.
Dampak Kinerja terhadap Pasar Kripto Global

Ambruknya harga Bitcoin berdampak signifikan terhadap pasar kripto global secara keseluruhan. CoinDesk 20 Index turun 2,55%, sementara Ethereum melemah 3,09% ke US$1.865. Kapitalisasi pasar kripto yang menyusut ke US$2,16 triliun mencerminkan ketidakpastian investor global. Perbandingan dengan Ethereum menunjukkan Bitcoin masih relatif lebih resilien di tengah tekanan makroekonomi global saat ini. Ethereum yang melemah lebih dalam menunjukkan sensitivitas aset kripto terhadap perubahan makroekonomi di Amerika Serikat.
Prediksi Pergerakan BTC di Agustus

Prediksi pergerakan Bitcoin di bulan Agustus cenderung akan range-bound atau berada dalam rentang tertentu hingga muncul katalis positif baru. Analis Lacie Zhang memprediksi harga akan bergerak naik-turun dalam batas tertentu sampai terjadi penurunan imbal hasil riil atau arus masuk dari ETF Bitcoin. Beberapa lembaga keuangan seperti JP Morgan optimis meski volatilitas rendah, namun whale selling yang signifikan juga menjadi risiko potensial yang perlu diwaspadai investor. Analis dari berbagai lembaga keuangan global terus memantau data whale activity untuk menentukan apakah harga akan kembali naik atau justru terkoreksi lebih lanjut.
Faktor Pendukung yang Masih Ada
Meski harga Bitcoin ambruk, masih ada faktor pendukung yang kuat. Adopsi institusi oleh perusahaan seperti MicroStrategy dan Metaplanet Inc. menunjukkan keyakinan yang kuat terhadap aset kripto ini. Inflasi AS yang stabil serta ekspektasi pemangkasan suku bunga Fed oleh bank sentral juga memberikan harapan pemulihan. Arus masuk dari ETF dan strategi treasury korporasi yang mulai menggunakan Bitcoin sebagai cadangan semakin memperkuat posisi pasar kripto secara keseluruhan. Adopsi institusi seperti yang dilakukan MicroStrategy dan Metaplanet Inc. yang agresif dalam membeli Bitcoin memberikan sinyal kuat tentang masa depan aset ini di kalangan perusahaan besar.
Implikasi untuk Investor Indonesia
Bagi investor di Indonesia, peristiwa ambruknya Bitcoin membawa peluang sekaligus risiko tinggi. Di tengah tekanan makroekonomi global, Bitcoin tetap menunjukkan ketahanan yang bisa dimanfaatkan untuk diversifikasi portofolio keuangan. Namun, volatilitas tinggi menuntut investor untuk memantau secara ketat data likuidasi harian dan aktivitas whale. Dengan prediksi range-bound di Agustus, investor dapat menunggu momentum masuk aset kripto sebelum katalis seperti inflow ETF Bitcoin muncul, sehingga strategi jangka panjang tetap relevan. Bagi investor Indonesia yang aktif di pasar kripto, pemahaman mendalam tentang prediksi range-bound ini dapat membantu mengelola risiko dengan baik sebelum masuknya arus masuk ETF yang dinantikan.







